Budi Arie Ditolak Gerindra, Pengamat Sebut Projo Tak Penting

Erlita Irmania
By -
0
Budi Arie Ditolak Gerindra, Pengamat Sebut Projo Tak Penting

Budi Arie Setiadi Ditolak oleh Gerindra dan PSI

Budi Arie Setiadi, mantan Menteri Koperasi dan Komunikasi dan Informatika (Kominfo), mencoba untuk segera bergabung dengan Partai Gerindra. Namun, langkahnya ini mendapat penolakan dari pengurus partai tersebut. Pengamat politik Adi Prayitno menyebut tindakan Budi Arie sebagai durhaka politik. Ia menilai bahwa penolakan dari Gerindra dan PSI menunjukkan bahwa kekuatan Projo, relawan yang dipimpin oleh Budi Arie, tidak dianggap penting dalam perpolitikan nasional.

Niat Budi Arie Bergabung dengan Gerindra

Pada Kongres III Projo di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Budi Arie mengatakan bahwa dirinya ingin secepatnya bergabung dengan Partai Gerindra. Ia menegaskan bahwa langkah ini dilakukan sebagai bentuk kesetiaan terhadap arah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. "Ya secepatnya (gabung Gerindra)," ujarnya.

Namun, niat Budi Arie tidak langsung diterima oleh pengurus Gerindra. Bahkan, beberapa Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra di berbagai daerah seperti Pematangsiantar, Makassar, dan Semarang menyatakan penolakan terhadap rencana bergabungnya Budi Arie.

Penolakan dari Gerindra

Ketua DPC Gerindra Pematangsiantar, Gusmiyadi, menilai bahwa rencana Budi Arie bergabung dengan Gerindra adalah langkah pragmatis untuk melindungi diri dari potensi jeratan hukum terkait kasus di Kominfo. Selain itu, ia juga mengkhawatirkan bahwa Budi Arie ingin mendapatkan posisi penting di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

Di Makassar, Ketua DPC Gerindra Kota Makassar, Eric Horas, menegaskan bahwa partai tersebut terbuka bagi siapa pun yang memenuhi syarat dan memiliki komitmen jangka panjang terhadap cita-cita perjuangan partai. Ia menekankan bahwa keanggotaan di Gerindra tidak boleh hanya didasarkan pada dukungan terhadap figur tertentu di masa lalu.

Sementara itu, DPC Gerindra Kota Semarang, Joko Santoso, menjelaskan bahwa rencana Budi Arie bergabung dengan Gerindra sedang dibahas secara internal. Ia menyoroti kekhawatiran kader di tingkat bawah bahwa Gerindra tidak boleh digunakan sebagai "tameng politik" oleh eks relawan tim pemenangan Joko Widodo.

Penolakan dari PSI

Di tengah penolakan dari Gerindra, PSI juga seolah menutup pintu bagi Budi Arie. Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, menyatakan bahwa partai tersebut tidak pernah menawarkan kursi kepada Budi Arie. Ia menyinggung sikap Budi Arie yang melepaskan diri dari Jokowi, meskipun PSI dikenal sebagai partai yang mengagungkan Jokowi sebagai figur panutan.

"Enggak, enggak ada namanya. Dia adalah relawan Pak Jokowi. Tapi di kemudian hari dia mengubah namanya, bukan lagi Pro Jokowi, dia berarti bukan relawan Pak Jokowi lagi," kata Ali.

PSI juga menekankan bahwa partai tersebut tidak pernah menawari Budi Arie untuk menjadi kader. Ali menegaskan bahwa hal ini penting untuk dicatat.

Analisis dari Pengamat Politik

Adi Prayitno menilai bahwa Budi Arie dan Projo telah melakukan manuver politik yang tidak ramah. Ia menyebut tindakan Budi Arie sebagai durhaka politik. Menurutnya, penolakan dari Gerindra dan PSI menunjukkan bahwa Projo tidak memiliki daya tarik elektoral yang signifikan.

Adi juga menilai bahwa Projo dan Budi Arie tidak memiliki pengaruh besar dalam kancah perpolitikan nasional. Ia menegaskan bahwa jika Projo benar-benar kuat, partai-partai lain akan berbondong-bondong melamar Budi Arie.

Perubahan Nama dan Logo Projo

Selain itu, Budi Arie juga ingin mengubah nama Projo menjadi sesuatu yang lebih universal, bukan lagi Pro Jokowi. Logo Projo yang sebelumnya berupa siluet wajah Jokowi juga ingin diganti. Hal ini menunjukkan bahwa Budi Arie ingin melepaskan diri dari sosok Jokowi yang selama ini menjadi junjungan Projo.

Kesimpulan

Penolakan dari Gerindra dan PSI terhadap Budi Arie Setiadi menunjukkan bahwa Projo tidak memiliki pengaruh besar dalam dunia politik Indonesia. Langkah Budi Arie untuk bergabung dengan Gerindra dianggap sebagai tindakan pragmatis dan tidak memiliki dasar yang kuat. Adi Prayitno menilai bahwa Budi Arie telah durhaka politik dan menerima karma atas tindakannya.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default