Satu Cerita, Seumur Hidup

Erlita Irmania
By -
0

Kehidupan dan Pengaruh Mbah Uti dalam Hidupku

Masakan Mbah Uti adalah makanan sehari-hari yang selalu hadir dalam kehidupanku. Mbah Uti adalah ibu dari ibuku, dan aku tumbuh bersamanya sejak bayi. Ayah dan Ibu masih tinggal bersama Mbak Kakung dan Mbah Uti sampai aku masuk sekolah menengah atas. Alasannya karena ayah dan ibuku bekerja, sementara Mbah Uti menawarkan diri untuk mengurusku. Dibandingkan menyewa asisten rumah tangga, uang yang dikeluarkan lebih baik ditabung untuk membeli rumah di lingkungan yang lebih baik nantinya.

Sejak lahir, aku menjadi cucu sekaligus "anak" bagi Mbah Uti. Masakan Mbah Uti menjadi makanan utama bagi seluruh anggota keluarga. Selain itu, Mbah Uti juga memiliki warung makan yang dibuatkan oleh Mbah Kakung di depan rumah sejak mereka tinggal di kota Bandung. Sebelumnya, Mbah Kakung bekerja di perkebunan dan pabrik teh di Pangalengan, sedangkan Mbah Uti bekerja di rumah manajer pabrik tersebut, yaitu keluarga keturunan Belanda.

Ketika orang-orang Belanda harus meninggalkan negeri ini, keluarga majikan Mbah Uti digantikan oleh bos dari Jakarta. Setelah beberapa lama, Mbah Uti menikah dengan Mbah Kakung dan hijrah ke kota Bandung. Mereka tinggal di sebuah gang yang cukup padat di tengah kota. Mbah Kakung diterima kerja di kantor pemerintahan, sedangkan Mbah Uti dibuatkan warung di depan rumah.

Ibuku adalah anak satu-satunya Mbah Uti, dan aku adalah anak satu-satunya ibu. Ibuku menikah dengan ayahku saat sama-sama bekerja di kantor sebuah pabrik tekstil. Tinggal di tengah kota lebih murah daripada harus mengambil rumah di pinggiran yang akan menghabiskan ongkos. Selain sekolah-sekolah negeri bagus, letaknya lebih banyak di tengah kota. Zaman itu sekolah unggulan masih didominasi oleh sekolah negeri. Tidak ada jaringan sekolah swasta bagus di perumahan-perumahan di pinggiran kota, berbeda dengan masa setelah aku lulus.

Sejak bayi, selain air susu ibu, makananku dibuat sendiri oleh Mbah Uti. Bubur buah, bubur nasi, nasi tim, semua dibuat dengan cinta oleh tangan Mbah Uti. Sesekali ibuku juga membuatkan makanan di bawah pengawasan Mbah Uti. Meskipun tidak pernah sekolah, Mbah Uti bisa membaca dan menulis karena pernah bekerja di rumah orang Belanda. Menu masakan yang dikuasainya pun beragam, mulai dari menu tradisional berbagai daerah hingga menu internasional yang biasa disajikan di rumah majikannya dulu.

Masa Kanak-Kanak dan Keberagaman Menu Masakan

Memasuki masa kanak-kanak, ibuku hampir tidak pernah merasakan anaknya susah makan kecuali aku sedang sakit yang membuat semua makanan terasa pahit di lidah. Itu pun selalu bisa diakali oleh Mbah Uti dengan membuatkan masakan khusus buatku. Lalu disuapi Mbah Uti dan Ibu bergantian, membuat rasanya disayang itu bikin ingin cepat-cepat sembuh.

Mbah Uti dan ibu adalah sosok perempuan yang ikut bekerja keras untuk keluarganya. Bagiku hal tersebut sudah tertanam sejak aku kecil. Apalagi Mbah Uti suka cerita saat kecil sudah ditinggal bapak dan simboknya. Untuk makan saja susah harus kerja dulu di sawah agar dapat upah untuk makan. Sejak kecil Mbah Uti sudah membantu menandur di sawah, jadi kuli panen, mengerahkan tenaga untuk merontokkan bulir-bulir padi di penggilasan kayu, bahkan sering juga menggilas tangkai-tangkai padi dengan kaki telanjangnya. Kaki kapalan dan luka sering dialami Mbah Uti saat musim panen.

Umur belasan tahun Mbah Uti harus meninggalkan kampung halaman di desa berdialek ngapak di Jawa Tengah dan ikut tetangga yang diambil bekerja sebagai pembantu ke daerah Pangalengan Jawa Barat. Bertahun-tahun jadi pembantu hingga akhirnya pelan-pelan nasib Mbah Uti berubah dan kemudian berjodoh dengan orang baik, Mbah Kakung.

Pengaruh Mbah Uti pada Perkembangan Makananku

Hampir semua makanan yang dimasak oleh Mbah Uti aku suka. Selain karena memang enak rasanya, menu yang disajikan Mbah Uti sering kali berbeda dibanding dengan menu keluarga pada umumnya di zaman itu. Meskipun bahan dasarnya sama tapi Mbah Uti bisa membuatnya lebih enak di lidah dan di mata. Sepiring makanan Mbah Uti adalah sepiring cerita kehidupan yang memperkaya pengalaman hidupku.

Aku ingat saat lebaran misalnya jika keluarga lain hampir semua keluarga membuat opor ayam, semur daging, sambal goreng kentang, Mbah Uti mengganti opor ayam dengan ayam goreng tepung, sebuah menu yang masih jarang ditemui di banyak keluarga. Bahkan menu ayam goreng tepung hanya bisa didapat di restoran khusus yang belum lama buka di kota-kota besar.

Selain itu saat itu mie instan merek terkenal baru ada dua varian, yang kuah dan goreng dan disajikan layaknya instruksi yang tertera di cara penyajian di bungkusnya. Tapi Mbak Uti sudah memperkenalkan menu martabak mie, di mana mie yang sudah direbus dicampur kocokan telur lalu baru digoreng dadar. Menu tersebut sempat jadi favorit keluarga kami sebagai lauk yang bisa dimakan dengan nasi. Sayuran goreng tepung juga sudah dikenalkan Mbah Uti saat dirasa aku kurang makan sayur. Hal ini menyiasati asupan sayur dan menu sayur berkuah yang bisa juga terkadang bosan. Belakangan setelah remaja baru aku tahu ada makanan yang juga digoreng tepung seperti seafood dan sayuran yang dikenal dengan tempura dari makanan Jepang.

Kebiasaan dan Pengalaman Makan Bersama Mbah Uti

Berkat Mbah Uti aku tidak picky alias tidak pilih-pilih makanan. Mbah Uti yang memperkenalkan semua jenis makanan. Sejak kecil aku pun sering membantu Mbah Uti mengupas sayuran misalnya. Mana sayuran yang baik untuk mata, untuk kulit, untuk jantung. Sumber protein seperti berbagai macam ikan baik ikan laut maupun ikan air tawar yang diceritakan Mbah Uti lalu menjadi lauk makanku. "Makan ikan supaya pintar," begitu sering diucapkan Mbah Uti saat mengambilkan makan untukku atau mengingatkanku setelah mulai besar dan mengambil makan sendiri di etalase warung.

Sedangkan untuk menu harian sepanjang masa jatuh kepada nasi goreng mentega (nasi goreng putih) yang kemudian menjadi menu andalan yang bisa aku praktikan saat mulai ngekos di zaman kuliah dulu. Nasi goreng putih adalah nasi goreng tanpa kecap manis dimasak menggunakan mentega dengan bawang putih yang dicincang halus hingga dari wanginya saja sudah menggoda. Lalu diberi telur yang diorak-arik asal, dengan bumbu hanya garam dan lada bubuk saja lalu ditaburi bawang merah goreng. Sesederhana itu. Tapi setiap Mbah Uti masak menu tersebut, hampir tidak pernah tidak nambah. Menu yang sering hadir untuk sarapan sejak aku mulai sekolah hingga akhir hayat Mbah Uti di saat aku kelas tiga sekolah menengah atas.

Kenangan tentang Mbah Uti

Setiap mengingat makan dan makanan buatku tidak akan lepas dari mengingat Mbah Uti. Sarapan dan makan malam seringnya kami selalu bersama-sama di meja makan. Sedang makan siang sepulang sekolah aku biasa mengambil sendiri di etalase warung, sebab Mbah Kakung, Ayah, dan Ibu makan di tempat kerjanya. Mbah Uti akan menemaniku makan bila sedang tak ada pembeli. Mbah Uti segalanya buatku. Sosok yang mengurusku, sosok yang mendampingiku tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat dan menjadi manusia yang sehat. Makanan Mbah Uti yang membentukku menjadi sosok yang kuat, dengan menu-menunya dengan doa-doanya.

Sepanjang umurku bisa dibilang aku tidak pernah masuk rumah sakit untuk dirawat. Ke rumah sakit atau ke layanan kesehatan hanya untuk kontrol dan periksa kesehatan. Alhamdulillah sampai hari ini, aku tidak pernah sampai harus rawat inap dan diopname di rumah sakit. Sakit pusing atau demam biasa karena perubahan cuaca biasanya.

Aku percaya ada andil Mbah Uti yang mengurus makanku dengan baik sejak masih bayi. Aku percaya makanan sehat dan penuh gizi yang beliau berikan adalah pembentuk organ, otot, otak, dan seluruh tubuhku sejak masa pertumbuhan dulu. Aku percaya ada doa-doa Mbah Uti saat beliau memasak, saat beliau menyuapiku, saat beliau mengurusku, agar aku menjadi anak yang sehat, anak yang kuat, dan anak yang berguna.

Kepergian Mbah Uti

Kepergian Mbah Uti di usiaku menjelang 18 tahun kala itu. Sehabis subuh Mbah Kakung selalu pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan warung dengan salah satu pekerja warung. Mbah Uti sudah menyalakan kompor dan menjerang air di dandang besar seperti biasa lalu melanjutkan berzikir di kamarnya. Ayah dan Ibuku bersiap ke kantor sedang aku bersiap ke sekolah. Mbah Kakung pulang belanja dan bersiap ke kantor. Mbah Uti masih bersimpuh di sajadahnya. Di dapur, tiga pekerja warung sudah mulai datang dan membereskan belanjaan.

Kami berempat sempat pamit ke Mbah Uti. Ayah dan Ibu selalu berangkat berdua dengan satu motor ke kantor sedang aku dibonceng Mbah Kakung diantar ke sekolah. Pulang sekolah aku baru naik angkot ke rumah. Hari itu semua berjalan seperti biasa. Cuaca normal. Bandung kota sudah lama tidak sedingin waktu aku kecil. Saat turun dari angkot di muka gang, tiba-tiba satu pekerja warung Mbah Uti berlari tergopoh-gopoh meminta bantuan karena Mbah Uti terjatuh di kamar mandi. Bersama pekerja dan tetangga, aku membawa Mbah Uti ke rumah sakit lalu menghubungi Mbah Kakung dan Ibu lewat telepon umum di rumah sakit ke kantor masing-masing.

Singkat cerita setelah tiga malam dirawat, stroke mendadak yang menyerang Mbah Uti mengenai batang otaknya dan Mbak Uti tidak bisa diselamatkan. Menjelang napas terakhirnya, di ranjang rumah sakit, Mbah Kakung mengelus-elus kepala Mbah Uti sambil membisikkan kalimat Talqin di telinga Mbak Uti. Ibu menggenggam tangan Mbah Uti berusaha kuat meski tak bisa lagi membendung air mata yang terus mengalir. Aku mengelus-elus dan menciumi tangan Mbah Uti sebelahnya. Dadaku sesak. Air mataku meluncur begitu saja.

Aku genggam tangan Mbah Uti yang mulai dingin dan tak bergerak. Tangan ini yang mengurus aku sejak bayi. Tangan ini yang membuatkan makanan untukku sehari-hari. Tangan ini yang menyuapiku saat kecil. Tangan ini yang membantuku tumbuh dengan sepiring cinta yang ia berikan tiap hari. Tangan yang penuh cinta, bibir yang penuh doa, hati yang penuh ikhlas memberikan apa yang ia punya.

Terima kasih Mbah Uti atas segala kebaikan dan pengorbannya untukku. Cinta dan doa Mbah Uti akan selalu kuingat sepanjang usia. Setiap piring yang Mbah Uti berikan adalah sejuta cinta buatku sampai kapanpun. Semoga kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya dalam jamuan keabadian Allah SWT.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default