
Sejarah Kampung Vietnam di Jakarta Timur
Kampung Vietnam, yang kini hanya tinggal sejarah dan sisa-sisa bangunan, berada di Jalan Diklat Depsos, Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur. Nama ini muncul dari masa lalu yang penuh dengan peristiwa penting, termasuk pengungsian warga Vietnam pada awal 1970-an saat Perang Vietnam sedang berlangsung. Wilayah ini dulu menjadi tempat penampungan pengungsi internasional dan juga panti jompo percontohan.
Masa Lalu yang Penuh Cerita
Pada masa Perang Vietnam, banyak warga Vietnam terpaksa meninggalkan tanah airnya. Sebagian dari mereka ditempatkan oleh pemerintah Indonesia dan lembaga kemanusiaan internasional di wilayah Kramat Jati. Area ini dipilih karena lokasinya relatif jauh dari pusat kota dan memiliki lahan luas yang cocok untuk dibangun kamp sementara. Namun, keberadaan para pengungsi tidak berlangsung lama. Setelah konflik mereda, sebagian besar dari mereka dipulangkan ke Vietnam, sementara sebagian lainnya dialihkan ke Pulau Bintan dan Australia.
Dari Kamp Pengungsi Menjadi Panti Jompo
Setelah pengungsi pergi, kawasan tersebut sempat dijadikan sebagai panti jompo oleh pemerintah. Ayuk (61), warga setempat, masih mengingat masa ketika kamp bekas pengungsian berubah menjadi panti jompo. “Dulu bagus banget, rapi, sejuk. Sampai ada 100 lebih lansia tinggal di sini,” kenangnya. Pada era 1980–1990-an, panti jompo ini menjadi salah satu percontohan nasional. Pemerintah sering membawa tamu, pejabat, hingga delegasi dari luar kota untuk melihat pengelolaan lansia di tempat itu.
Banjir Besar 2002: Awal Keruntuhan
Banjir besar yang melanda Jakarta pada 2002 memberi dampak besar bagi kawasan tersebut. Air meluap hingga setinggi dada orang dewasa dan merendam seluruh area panti jompo. Setelah banjir itu, aktivitas di kawasan tersebut perlahan berkurang. Pada tahun-tahun berikutnya, panti jompo resmi berhenti beroperasi. Bangunan mulai rusak, halaman dipenuhi ilalang, dan kawasan berubah menjadi kampung tak berpenghuni.
Dari Kampung Mati Menjadi Waduk
Pada 2024, Pemprov DKI memutuskan untuk merelokasi warga yang masih tinggal di sekitar Kampung Vietnam, merobohkan sejumlah bangunan lama, dan membangun waduk pengendali banjir sebagai bagian dari program penataan kota. Kini, dua hamparan kolam besar terbentang di bekas Kampung Vietnam. Airnya memantulkan langit mendung, sementara jalur beton memanjang ke tengah waduk.
Penilaian Warga dan Pengamat
Beberapa warga sekitar kini memanfaatkan waduk sebagai tempat rekreasi dadakan seperti Sarif (44) yang hampir setiap sore memancing di sana. “Lumayan tenang. Dulu mah kumuh, banyak nyamuk. Sekarang lebih rapi, airnya lebih bersih,” tuturnya. Meski tidak tahu pasti sejarah kampung tersebut, Sarif mengaku pernah mendengarnya.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai keberadaan Kampung Vietnam memang memiliki nilai historis, tetapi tidak termasuk jejak sejarah yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Kota Jakarta. Ia juga menyinggung fenomena bahwa banyak kampung di Jakarta yang menyisakan nama, tetapi tidak lagi memiliki identitas yang bisa dikenali.
Jejak Sejarah yang Tetap Ada
Meskipun kampung ini telah berubah berkali-kali, dari tempat pengungsian, menjadi panti jompo, lalu kampung mati, dan kini waduk, sejarahnya tetap hidup dalam memori warga. Gapura tua dengan kayu lapuk dan pilar penuh grafiti kini berdiri sebagai penanda, sebuah pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi rumah sementara bagi mereka yang melarikan diri dari perang, menjadi tempat perawatan lansia, hingga akhirnya menjadi bagian dari upaya menyelamatkan Jakarta dari banjir.