Khutbah Jumat 28 November 2025: Jauhi Ilmu Perdukunan untuk Ketenangan Hidup

Erlita Irmania
By -
0
Khutbah Jumat 28 November 2025: Jauhi Ilmu Perdukunan untuk Ketenangan Hidup

Pentingnya Menjauhi Ilmu Perdukunan dalam Kehidupan Muslim

Erfa News – Tribuners, menjauhi ilmu perdukunan dan praktik spiritual yang meragukan sering dikaitkan dengan keinginan untuk mencapai ketenangan hidup. Hal ini terutama dalam banyak ajaran agama dan budaya. Dalam Islam, keyakinan bahwa menjauhi ilmu perdukunan atau sihir adalah kunci menuju kehidupan yang tenang dan damai berakar kuat dalam ajaran agama itu sendiri.

Perdukunan dianggap sebagai salah satu dosa besar yang dapat merusak akidah (keyakinan) seorang Muslim dan menjauhkan diri dari perlindungan Allah SWT. Berbicara tentang Jumat esok hari, tepatnya di hari Jumat tanggal 28 November 2025, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat. Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.

Khusus untuk khutbah pada Jumat esok hari, berikut merupakan naskah khutbah Jumat yang sudah Erfa Newslansir dari berbagai sumber untuk tanggal 28 November 2025 bertemakan "Jauhkan Diri dari Ilmu Perdukunan Jika Ingin Hidup Tenang".

Khutbah 1

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، الَّذِى يَعْلَمُ مَا أَظْهَرَهُ الْعَبْدُ وَمَا أَخْفَاهُ، الْمُتَكَفِّلُ بِأَرْزَاقِ عِبَادِهِ فَلاَ يَتْرُكُ أَحَدًا مِنْهُمْ وَلاَيَنْسَاهُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى مَاأَعْطَاهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

Sidang Jumah yang Dirahmati Allah
Puji dan syukur marilah kita sama-sama panjatkan ke Hadirat Allah swt. Dzat yang maha mencipta dan mengatur segalanya. Dzat yang senantiasa melimpahkan nikmat kepada kita semua. Termasuk nikmat taufik dan hidayah, sehingga pada kesempatan ini kita berada di tempat yang mulia ini dalam rangka menunaikan shalat Jumat berjamaah. Semoga setiap amal yang kita lakukan hingga saat ini menjadi bukti ketaatan kelak bagi kita di hadapan Allah serta menjadi wasilah meraih rida-Nya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Besar Muhammad saw. Penghulu para nabi dan rasul yang diutus menjadi rahmat ke seluruh alam. Shalawat dan salam juga semoga dicurahkan kepada para sahabatnya, para tabiin, para tabi’ tabiin, dan juga kepada umatnya yang senantiasa memohon pertolongan dari Allah agar bisa mengikuti ajaran-ajarannya, serta di akhirat bisa mendapatkan syafaatnya.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Tauhid adalah kunci masuk surga. Sebaliknya, syirik menjerumuskan ke neraka. Salah satu fenomena kesyirikan adalah sihir dan perdukunan. Mirisnya, di zaman yang modern ini, masih saja ada praktik sihir dan perdukunan. Padahal, sekadar mendatangi dukun dengan menanyakan sesuatu, bisa membuat shalat kita selama 40 hari sia-sia.

Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Artinya: Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. (HR. Muslim).

Jika mendatangi dukun atau peramal lalu mempercayai apa yang mereka ucapkan, apa yang mereka ramal, maka bahayanya lebih besar lagi. Hal itu bisa membuat kita terjatuh pada kekufuran.
مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Artinya: Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal dan mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR. Ahmad. Hadits senada diriwayatkan juga oleh Abu Dawud).

Bagaimana penjelasannya seseorang yang mendatangi dukun atau peramal dan mempercayai ucapannya bisa jatuh menjadi kafir?
Sebab orang datang kepada mereka umumnya dengan tujuan mencari perlindungan, keselamatan, menanyakan masa depan dan hal-hal ghaib lainnya, yang kesemuanya itu seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Hanya Allah yang Maha Melindungi. Allah-lah pemilik keselamatan. Hanya Allah yang menentukan dan menjami rezeki seseorang. Dan hanya Allah yang Mengetahui masa depan dan apa yang terjadi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Hai Nabi, cukulah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. (QS. Al Anfal: 64)

Apa yang manusia lakukan di zaman modern ini dengan mendatangi dukun dan meminta pertolongan gaib kepadanya, tidak ubahnya seperti orang-orang kafir di zaman jahiliyah yang menggantungkan harapan kepada berhala, atau meminta bantuan kepada para dukun yang kemudian dukun-dukun itu berhubungan dengan jin dan berhala. Padahal mereka mengakui bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. Lalu, mengapa mereka tidak memurnikan ibadah kepada Allah dan hanya meminta kepada Allah?

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْزَقَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Artinya: Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nyalah bertawakallah orang-orang yang berserah diri. (QS. Az Zumar: 38)

Jamaah Jum’at hafidhakumullah,
Fenomena perdukunan di era modern ini semakin kompleks dan kadang-kadang dibungkus dengan berbagai kemasan dan istilah yang menipu. Istilah dukun banyak diganti dengan “orangtua”, “sesepuh”, “orang pintar”, bahkan “guru spiritual.”

Jika dulu dukun identik dengan dupa dan kemenyan, orangnya berambut panjang, bau tak sedap karena jarang mandi, pakaian serba hitam yang kumal, saat ini dukun bisa tampil dengan pakaian rapi, parlente, dan bergaya kece.

Namun, hakikatnya sama. Mereka mengaku memiliki kekuatan gaib dan mengklaim memiliki ilmu gaib yang mampu menyelesaikan permasalahan orang yang meminta tolong kepadanya. Umumnya akan disertai dengan ritual atau persyaratan yang tidak ilmiah dan tidak memiliki dalil, meskipun sang dukun berupaya memberi label praktiknya dengan identitas Islami.

Sedangkan alat-alat yang digunakan sebagai sarana, jika dulu ada jimat, saat ini kerap disamarkan dalam bentuk gelang, cincin, kalung dan berbagai perhiasan yang indah. Namun, hakikatnya juga sama. Benda-benda itu diklaim sebagai penangkal sesuatu, atau mendatangkan kekuatan tertentu. Sehingga sang pemakai akan tergantung kepadanya, takut jika berpisah atau kehilangan benda itu.

Dulu di zaman Rasulullah juga ada praktik serupa. Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kesaksiannya tentang bagaimana sikap Rasulullah terhadap jimat-jimat semacam itu.
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ . قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً
Artinya: Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya, “Apakah ini?” Orang itu menjawab, “penangkal sakit.” Nabi pun bersabda, “Lepaskanlah itu, karena ia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati dan gelang itu masih ada pada tubuhmu, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang juga dimasukkan Imam Ahmad dalam Musnad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
Artinya: Barangsiapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya. Dan barangsiapa menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak memberi ketenangan padanya. (HR. Ahmad)

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit dan pengaruh jahat orang yang dengki dan sebagainya. Sedangkan wada’ah adalah sesuatu yang diambil dari laut semisal kerang yang digunakan sebagai jimat.

Dari hadits Nabi tersebut kita mendapatkan penjelasan mengapa banyak orang yang memiliki dan menggunakan jimat justru ia dilanda galau dan menderita hidupnya, tidak lain karena jimat-jimat dari dukun itu hanya menambah kesesatan. Ia tidak memiliki kekuatan karena kekuatan hanya milik Allah, malah ia membuat hati takut dan mendatangkan laknat Allah.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Praktik perdukunan semacam itu, juga memakai jimat-jimat seperti itu, membuat hati bergantung kepada dukun dan jimat. Tidak lagi mau beribadah kepada Allah dan berdoa kepadaNya, namun mengandalkan dukun dan jimat sebagai penyelesai masalah dan jalan pintas menuju kesuksesan. Meskipun mengaku sebagai Muslim, pada hakikatnya kemusyrikan telah merasuk pada jiwanya, persis seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
Artinya: Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan Allah. (QS. Yusuf: 106)

Betapa bahayanya syirik ini Allah tegaskan dua kali dalam surat yang sama. Bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, sementara dosa-dosa yang lain masih mendapatkan peluang ampunan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Ia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisa: 48)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Ia kehendaki. Barangsiapa mepersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An Nisa’: 116)

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah 2

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ   اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.  اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَبِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default