
Episode 1: New York, 1998 – Marketing Spiritual di Bawah Empire State
Cerita pertama ini terjadi di Manhattan, New York, bulan Desember 1998. Di hari yang sedikit mendung, setelah habis naik ke puncak lantai 102 Empire State Building, saya jalan-jalan santai di West 34th Street melihat-lihat toko suvenir. Lumayan melihat kehidupan kota besar setelah hampir dua minggu di pedesaan di Long Island. Niatnya sederhana, mencari magnet kulkas atau sekadar T-Shirt yang entah kenapa rasanya wajib dibeli.
Baru sebentar mata saya menyapu rak-rak berisi kaus "I NY" (yang saya yakin diproduksi di pabrik entah dimana), tiba-tiba muncul seorang pria bertampang India, kira-kira berusia sebaya dengan saya. Senyumnya lebar, sapaannya langsung to-the-point tanpa basa-basi.
"Hey Brother, You're Indian, right? We met before!"
Nadanya itu lho, teman-teman, seperti sudah yakin 120% bahwa saya adalah sepupunya yang baru saja mendarat dari Ahmedabad. Saya bingung. Belum sempat mencerna, dia sudah melanjutkan, "Come on, shop here, I'll tell the dener that you're my friend. You'll get a better price."
Oh, baiklah. Seketika saya sadar. Ini rupanya semacam jurus marketing spiritual ala New York. Strategi manis yang menggabungkan rasa persaudaraan dan tawaran diskon yang entah beneran atau hanya sekadar angin surga.
Saya cuma bisa menjawab diplomatis sambil tersenyum geli. Dia tetap ngotot saya ini orang India. Ya sudahlah. Demi menjaga mood liburan dan agar magnet kulkas segera terbeli, saya biarkan saja dia merasa benar. Yang penting, misi magnet kulkas selesai dan saya bisa kembali menikmati trotoar Manhattan tanpa perlu berdebat soal silsilah keluarga.
Episode 2: Moskwa, 2008 – Kertas Kiril India di Balik Paspor Merah Putih
Sepuluh tahun berlalu, dan drama identitas saya pindah panggung ke tempat yang jauh lebih kaku dan birokratis: Moskwa, 2008.
Saat itu saya menginap di Crowne Plaza World Trade Centre Hotel, sekitar 10 menit jalan kaki dari stasiun metro Ulitsa 1905 Goda. Salah satu birokrasi yang hingga saat ini masih wajib di Rusia dan sebagian negara eks Soviet adalah wajib mengurus registrasi OVIR (semacam lapor diri ala Soviet). Prosedurnya klasik Soviet: paspor diserahkan, staf hotel yang urus, dan kita tinggal menunggu dengan pasrah.
Waktu paspor dikembalikan, saya membuka halaman visa Rusia yang izin tinggalnya hanya satu minggu, sama persis dengan tiket Singapore Airlines yang saya serahkan di kedutaan. Namun, di baliknya terselip selembar kertas berharga—dokumen OVIR—yang isinya terketik rapi dalam aksara Kiril.
Saya kebetulan pernah sedikit belajar bahasa Rusia dan membaca aksara Kiril. Dengan mata sedikit menyipit, saya mencoba mengeja data yang tertera. Selain data pribadi seperti nama dan tanggal lahir, ada data di kolom kebangsaan, terpampang jelas satu kata yang membuat kening saya berkerut: —India. Ya ampun. Jadi saya sudah berubah jadi orang India.
Bukan hanya saya, istri saya pun ikut terkena salah isi data yang sama: dokumen OVIR-nya juga tertulis "Indiya."
Kami jadi agak was-was. Paspor kami jelas Indonesia, tapi dokumen wajib lapor yang dikeluarkan otoritas Rusia menyebut kami dari India. Sebenarnya mau protes ke hotel, tapi kami dua hari lagi harus terbang ke St. Petersburg.
Tentu saja ada rasa waswas. Bagaimana kalau nanti di bandara ada petugas yang kepo dan bertanya, "Kenapa dua orang ini punya paspor Indonesia, tapi kertas lapor dirinya bilang India?" Tapi syukurlah, proses keluar Rusia berjalan mulus. Tampaknya petugas imigrasi lebih peduli saya bawa magnet Kremlin atau tidak, serta memperhatikan tanggal masuk dan keluar Rusia apakah sesuai visa, ketimbang mencocokkan ejaan negara di kertas lapor diri yang berwarna putih itu.
Episode 3: Cleveland, 2012 – Aksen yang Menyelamatkan Nyawa
Ini nih, puncak drama yang paling mendebarkan, empat tahun kemudian di Cleveland, Ohio.
Setelah selesai belanja di sebuah mal di pinggiran kota, saya dan teman saya terdampar. Waktu berangkat dari pusat kota, sangat mudah mencari taksi. Tetapi ketika di sore hari mau kembali ke hotel, ternyata hampir semua pengunjung memiliki mobil pribadi sehingga untuk naik taksi harus memesan melalui telepon. Saat itu belum ada taksi online. Masalahnya: tidak ada satu pun taksi yang melintas atau menunggu penumpang.
Untungnya, saya sudah mencatat nomor telepon yang ada di pintu taksi. Saya telepon operatornya, yakin masalah ini bisa diselesaikan dalam lima menit.
Tapi, tidak semudah itu Ferguso.
Setelah menanyakan lokasi tempat kami menunggu, Operator itu bertanya nomor ponsel saya. Saya jawab jujur: nomor Indonesia. Tiba-tiba suaranya berubah tegang, "No no, we cannot call that number! How will we reach you?!" Mereka menolak mengirim taksi karena tidak ada jaminan bisa menghubungi saya kembali. Saya hampir pasrah. Terjebak di pinggiran kota Cleveland.
Lalu, seperti ada lampu teater menyala di kepala, saya teringat aksen operator itu. Khas India-Amerika.
Saat itu juga, saya ambil keputusan paling dramatis: berakting jadi orang India.
Saya mengubah logat. Agak sengau, sedikit tergesa-gesa, sedikit menggeleng halus di telepon, persis seperti orang yang sedang menjelaskan paket data unlimited kepada pelanggan yang cerewet.
"It's okay, brother, I'm also Indian. I will be waiting near the Italian restaurant, the driver won't miss me."
Seketika operator itu luluh. Suaranya jadi hangat, ramah, dan penuh janji.
Setengah jam kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depan restoran Italia. Sopirnya tersenyum lebar, menyapa saya dengan nada penuh persaudaraan. Untuk pertama kalinya, saya tidak hanya dikira orang India --- saya benar-benar menjadi orang India (secara performatif) demi menyelamatkan diri. Dan sukses! Untungnya pengemudinya bukan orang India, tetapi kemungkinan besar orang Lartino.
Episode 4: Taipei, 2016 – Senan Jantung di Imigrasi Taiwan
Kejadian terakhir, sekaligus yang paling bikin jantung mau copot, terjadi tahun 2016. Saya mau terbang ke Taipei dari Hong Kong. Karena punya visa Amerika, saya bisa mengajukan Travel Authorization Taiwan secara online.
Masalahnya, saya lupa mencetak dokumen itu. Di check-in, petugas bilang harus ada cetakannya, kalau tidak otorisasi itu tidak tercatat. Untungnya dia baik hati, membantu mengajukan ulang, dan mencetakkannya. Saya lolos, dan karena waktu sudah mepet, langsung naik pesawat dengan perasaan lega.
Di dalam pesawat, baru saya baca dan periksa dokumen itu dengan tenang. Dan saya terkejut bukan main: semua data pribadi saya benar, nama, nomer paspor, tanggal lahir... kecuali satu kolom: Nationality: India.
Semua ketenangan langsung hilang ditelan awan. Bagaimana kalau imigrasi Taipei menolak? Bagaimana kalau saya dianggap memalsukan identitas? Bagaimana menjelaskan bahwa ada manusia dengan paspor Indonesia tapi izin masuknya tertulis India?
Sesampai di Taipei, saya berjalan santai, tidak antre melainkan mencari solusi. Saya hampiri staf darat maskapai Cathay Pacific. Dengan nada sedikit memohon, saya ceritakan kronologi kejadiannya. Dia langsung ambil paspor saya dan bilang akan membantu mengurus aplikasi baru. Saya pun merasa lega.
Dan jadilah saya berdiri di area kedatangan, tanpa paspor, hanya menggenggam rasa cemas. Lima belas menit, dua puluh menit berlalu. Saya mulai memikirkan skenario terburuk: apakah saya akan tinggal di bandara ini selamanya?
Setengah jam kemudian, gadis berseragam merah itu kembali muncul. Wajahnya lega. Paspor di tangan. Aplikasi baru sudah beres, dan kali ini, kebangsaannya benar: Indonesia. Saya berjalan melewati imigrasi Taipei, nyaris ingin tersenyum sendiri saking leganya.
Namaste, Dunia
Di titik itulah, setelah semua kekonyolan ini, saya akhirnya sadar biang keladinya.
Di banyak formulir online, daftar kebangsaan itu diurutkan secara alfabetis. Indonesia berada tepat di bawah India. Lalu diikuti Iran, Iraq, Irlandia Israel dan Italia.
Jaraknya hanya satu klik. Satu scroll yang kurang fokus. Satu detik tangan petugas bandara atau staf hotel terpeleset. Dan begitulah, seluruh dunia mendadak mengira saya berasal dari Kerala, bukan dari Jakarta atau Bekasi .
Mungkin memang wajah saya ada miripnya sedikit. Atau mungkin semesta memang sedang jahil.
Tapi yang jelas, empat kejadian absurd ini memberi satu pelajaran sederhana: hidup itu tak perlu terlalu serius. Kadang kita harus ikut tertawa—sambil sedikit menggeleng kepala seperti orang India—ketika dunia salah mengidentifikasi kita. Bahkan, kadang kita harus meminjam aksen negara lain demi menyelamatkan situasi dari pinggiran Cleveland yang sunyi.
Pada akhirnya, saya tetap orang Indonesia. Orang Indonesia yang entah kenapa, sering tersasar di antara I-N-D-I-A, I-N-D-O-N-E-S-I-A, Iran, Iraq, dan Israel—hanya karena berada di halaman yang sama dalam urutan alfabet.
Untuk semua kekacauan kecil itu, saya cuma bisa bilang:
Namaste, dunia. Terima kasih sudah salah beberapa kali, dan menjadikannya kisah yang tidak akan pernah bosan saya ceritakan.