JAKARTA, Erfa News–
Coba periksa grup WhatsApp kalian yang memiliki nama aneh atau akun media sosial X yang tidak biasa. Apakah isinya penuh dengan meme wajah pejabat yang sedang diroasting? Jika ya, waspada. Bisa saja salah satu teman kalian itu adalah agen aparat yang sedang menyamar untuk mencari bukti pidana.
Kedengarannya seperti overthinking, tapi sayangnya, rasa takut ini semakin valid dan nyata. Mengapa? Karena revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) yang telah disahkan.
Bagi kalian yang suka marah-marah atau membuat gambar meme dengan wajah pejabat, sekarang harus lebih hati-hati. Batas antara bercanda di media sosial dan tindak pidana semakin kabur.
Kamu bisa tertawa melihat meme roasting pejabat hari ini, tapi besok kamu mungkin akan ditangkap karena dianggap melanggar hukum karena adanya RKUHAP.
Salah satunya adalah pasal tentang polisi yang bisa menyamar alias undercover dan pasal karet yang membuat kebiasaan spill kemarahan dan reposting meme kita menjadi ngeri-ngeri sedap.
Artikel ini mencoba mengajak kamu, anak-anak muda Generasi Z, untuk membedah seberapa valid ketakutan terkait pembatasan ekspresi di ruang digital dan bagaimana implementasi hukumnya setelah RKUHAP disahkan.
Meme sebagai bahasa politik
Jujur aja, seberapa sering sih kamu benar-benar membaca ratusan halaman naskah undang-undang yang tebalnya seperti kitab kera sakti? Bagi Gen Z yang terus-menerus dihujani ribuan konten setiap harinya dari media sosial, otak kita cenderung memilih informasi yang ringan dan mudah dicerna. Termasuk, meme yang menjadi bahasa politik sekaligus ungkapan ekspresi keresahan kita semua. Zeta (22 tahun), seorang karyawan swasta di Jakarta Barat, salah satunya. Baginya, isu hukum yang berat seperti RKUHAP itu membosankan dan seringkali lewat begitu saja kalau tidak dikemas dengan bahasa visual. "Jujur sebenarnya persoalan RKUHAP itu tiba-tiba muncul dan susah dipahami. The moment orang tau ada RKUHAP, enggak lama setelah itu sah gitu aja, tanpa masyarakat tau sebenarnya apa sih RKUHAP ini," cerita Zeta. Di tengah kebingungan untuk keep up dengan RKUHAP, meme hadir sebagai penyelamat untuk dia bisa cari tau lebih dalam. Zeta mencontohkan sebuah meme viral yang menggambarkan situasi yang bikin semua orang bisa masuk penjara kalau berisik mengkritik kebijakan politik. Buat dia, meme "This could be us, but you choose stop playing medsos" jadi salah satu yang bikin awareness-nya soal RKUHAP muncul, karena takut hobi main medsosnya terusik. “Itu paling seru sih kayaknya. Meme itu beneran dapet respon positif, malah orang-orang lebih senang dengan konsep kalau ntar penjara penuh karena kita kritik pemerintah. Itu menarik banget,” kata Zeta.
Meme politik ternyata ilmiah!
Buat Gen Z, politik itu nggak melulu soal debat kaku ala generasi boomer di acara televisi. Justru, meme di medsos yang sering dianggap enggak penting sama orang-orang tua, ternyata memang terbukti bisa jadi ekspresi politik anak muda secara ilmiah, guys! Berdasarkan riset Fatanti & Prabawangi (2021) di Universitas Negeri Malang terbukti kalau meme politik juga bentuk partisipasi politik anak muda. “Melalui meme, warga negara bukan hanya dapat menyuarakan pendapatnya, namun juga memperoleh dan menyebarkan informasi sekaligus hiburan. Selain itu, meme juga dapat bertindak sebagai medium edukasi dan literasi politik bagi anak muda,” jelas hasil riset itu. Enggak cuma itu, riset internasional Limor Shifman (2014) di Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga bilang kalau meme itu bisa jadi fundamental edukasi politik paling simpel di internet. Daripada darah tinggi lihat kelakuan pejabat yang red flag, Gen Z lebih milih nge-roasting lewat visual kocak dan satir yang bikin kritik terasa lebih seru dan gampang dicerna. Nggak cuma itu, meme juga sering jadi entry point atau pintu gerbang pertama yang bikin kita melek sama isu berat—mulai dari kasus korupsi sampai drama pemilu—yang mungkin males kita baca kalau cuma lewat teks berita panjang. Well, mau nonton berita di televisi atau lewat meme konyol di medsos, It’s still politics, but just make it fun, right?
Trust issue: Ketika 'mutual' di Twitter ternyata intel yang nyamar
Eits, tapi kita harus tau nih, ada salah satu bagian di RKUHAP yang bisa bikin para Gen Z anxiety, yaitu pasal soal penyamaran, yang dinilai jadi pasal karet. Dalam RKUHAP yang baru, tepatnya di Pasal 136, aparat penyidik punya kewenangan buat memakai teknik penyamaran alias undercover untuk mendalami suatu tindak pidana. Skenarionya gini, misalnya, kamu sering diskusi soal politik, bahkan sampai marah-marah ke pejabat publik di media sosial. Ternyata, ada satu orang mutual anonim kamu di medsos yang sering mancing emosi dengan ngasih unjuk kebijakan yang cukup ngeselin, sampai akhirnya kamu memaki para pejabat pakai kata-kata kasar. Cekrek. Chat itu di-screenshot dan langsung bisa jadi alat bukti sampai kamu diciduk karena dianggap mencemarkan nama baik atau menghina lembaga negara. Valid enggak? Ini kata ahli hukum Pengacara Publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Fadhil Alfathan bilang, sebenarnya penyamaran itu cuma boleh dipakai buat kasus narkotika, termasuk di dalam RKUHAP yang disebut lewat bagian penjelasan. “Nah tapi problemnya, itu kan adanya di penjelasan umum ya, khawatirnya ini kemudian sangat rentan ada misuse pada penggunaan teknik investigasi khusus ini, digunakan tanpa pemahaman yang jelas dari aparat penegak hukum,” kata Fadhil. Buat kalian yang udah punya trust issue ke aparat yang melakukan proses hukum enggak sesuai prosedur, cukup wajar kalau khawatir penyamaran ini dilakukan di luar kasus narkotika. “Tentu menurut saya valid gitu ya (kekhawatiran), karena memang tidak ada jaminan bagi warga negara untuk kemudian terbebas dari penyalahgunaan kekuasaan aparat, tentu itu suatu hal yang valid. Apalagi, tidak ada mekanisme pengawasan dan tanggung jawab yang jelas di hukum kita,” ucap Fadhil. Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar ikut memvalidasi ketakutan ini. Fickar menyoroti tajam soal praktik penyamaran yang dilakukan aparat sebagai sebuah penjebakan. "Menurut saya, kalau undercover itu sudah terlalu jauh. Dan ini menurut saya bertentangan dengan asas-asasnya sendiri, asas dari hukum acara pidana," kata Fickar. Ragebaiting jadi jebakan Fickar menjelaskan sebuah prinsip hukum dasar yaitu asas praduga tak bersalah yang membuat orang harus dianggap baik sampai terbukti jahat. Tapi, dengan teknik undercover yang tidak dibatasi secara jelas, Fickar menilai polisi bisa melakukan apa yang disebut entrapment alias penjebakan. Misalnya, praktik memancing orang lain buat menjelek-jelekkan atau menghina seseorang di media sosial alias rage baiting. "Itu kan memancing orang untuk memancing orang melakukan tindak pidana, yang tadinya tidak mau berbuat pidana, karena dipancing itu jadi pidana," jelas Fickar. Simpelnya gini, kamu itu tadinya anak baik-baik yang cuma mau keluh kesah biasa aja. Tapi, saat kamu diincar karena sering mengkritik, ada intel yang nyamar dan memprovokasi di medsos sampai jadi ikut-ikutan ngomong kasar atau menyebar info yang belum tentu benar. Kalau kata Fickar, orang yang tadinya enggak punya niat jahat, jadi bisa terpancing untuk punya niat jahat karena dorongan dari penyamar tadi. Fickar juga menegaskan bahwa teknik undercover dan penjebakan itu hanya masuk akal untuk kasus narkotika, di mana peredarannya tertutup dan tingkat kerusakan terhadap generasi bangsanya sangat besar. "Mestinya ketentuan menjebak lewat penyamaran itu jangan diatur di dalam ketentuan yang umum. Karena kalau di ketentuan umum maka berlaku secara umum, untuk kasus apa saja,” kata Fickar. “Misalnya ada orang sengaja dikentutin biar marah, terus pas dia mukul, langsung dikenain pasal penganiayaan," sambungnya memberikan analogi satir. Jadi, ketakutan Gen Z yang ngerasa RKUHAP jadi bikin aparat makin red flag itu ternyata cukup punya alasan yang kuat. Duh, ngeri juga, ya.
POV DPR: "Kalian Cuma Overthinking!"
Disaat netizen panik soal potensi kriminalisasi, DPR RI akhirnya juga ikut speak up. Kalau kata Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, narasi seram yang seliweran di timeline itu cuma berlebihan dan salah kaprah. Menurut dia, RKUHAP yang baru disahkan 18 November 2025 kemarin justru bikin syarat penangkapan jadi jauh lebih ribet dibanding aturan lama. "Syarat penangkapan dalam revisi RKUHAP jauh lebih banyak dan lebih berat dibandingkan dengan RKUHAP lama," kata Habiburokhman di Gedung DPR RI, Selasa (18/11/2025) lalu. Jadi, buat kamu yang takut tiba-tiba diciduk pas lagi repost meme lucu itu, DPR minta kamu tenang dulu. Katanya sih, polisi enggak bisa asal main tangkap tanpa kepastian tindak pidananya. Polisi enggak bisa subyektif Habiburokhman juga menjelaskan kalau di RKUHAP baru, polisi enggak bisa sembarangan menetapkan tersangka, alias harus punya dua alat bukti dulu. Terus soal penahanan, aturannya diklaim lebih objektif dan enggak cuma mengandalkan subjektivitas penyidik. Menurut Habiburokhman, kamu baru akan ditangkap kalau beneran red flag banget kelakuannya, misalnya, ngeghosting alias mangkir dari panggilan polisi dua kali berturut-turut, memberikan informasi palsu, menghambat pemeriksaan, mau kabur, atau menghilangkan barang bukti. "Nah, kalau di RKUHAP baru, ini sangat obyektif, sangat bisa dinilai, gitu lho," kata politisi Gerindra itu. Klarifikasi penyadapan handphone Terus, dia juga bilang kalau narasi soal isu HP kita yang bisa disadap atau disita seenak jidat itu misleading. Katanya, semua aksi "mata-mata" kayak penyadapan, penbekuan rekening, sampai penyitaan handphone itu wajib ada izin dari pengadilan. Jadi, polisi enggak bisa jadi stalker dadakan yang intip chat WA kamu tanpa prosedur hukum yang sah. Nantinya, aturan detail soal penyadapan ini bakal diatur lebih lanjut di Undang-undang yang terpisah. Walaupun begitu, Pengacara Publik LBH, Fadhil Alfathan ngaku enggak mau percaya begitu aja sama polisi soal penyadapan ini. Menurut Fadhil, meskipun poin mengenai penyadapan ini belum diatur secara detail, tetap aja sudah ada dasar hukum buat polisi melakukan penyadapan. Malahan, jadi lebih bahaya karena belum dikasih aturan main yang jelas, karena belum adanya UU Penyadapan. "Tetap saja kita harus khawatir dan sangat valid, karena ya itu, walau belum detail, tapi tetap udah ada dasar hukum buat polisi menyadap. Malah jadi bahaya kalau polisi menginterpretasikan sendiri cara-cara penyadapannya," ucap Fadhil.
Meme Muka Pejabat: Negara Baperan Atau Netizen Kelewatan?
Selain takut dijebak intel, kekhawatiran terbesar Gen Z di medsos adalah soal konten yang kadang dianggap sensitif, tapi sebenarnya lucu, termasuk meme. Apa jadinya kalau meme muka pejabat yang kita edit dan bikin ketawa itu ternyata dianggap penghinaan? Apakah kita harus berhenti mengkritik lewat gambar? Zeta, sebagai sosok yang hobi lihat muka pejabat dijadikan meme, merasa aturan ini cukup tidak masuk akal. "Padahal main sosial media kan bebas ya, meme juga ekspresi aja gitu, keluh kesah. Itu malah ganggu kita sebagai masyarakat buat punya suara. Kalau diatur bahkan diancam gitu mah parah banget," keluhnya. Tapi tenang, Pak Fickar ternyata cukup ngasih rasa lega, walau tetap ada batasan dalam bikin meme. Menurut Fickar, ada perbedaan besar yang harus dipahami pejabat saat menghadapi meme di media sosial, yaitu antara mengkritik kebijakan publik dan menyerang pribadi. Fickar mengingatkan kita pada konsep dasar negara demokrasi, pejabat publik itu pelayan rakyat yang digaji pakai uang pajak kita. "Sekeras apapun kritik warga negara terhadap pejabat publik, sepanjang ia masih pejabat publik, itu tidak berlaku itu hukum pidananya seharusnya. Penuntutan terhadap warga negara itu harusnya enggak boleh ada," tegas Fickar. Lalu bagaimana dengan meme edit wajah pejabat yang blunder sampai seliweran di seluruh media sosial? "Sepanjang itu karikatur, tidak merusak wajah aslinya, itu tidak apa-apa. Kan gini, kalau karikatur digambar jadi kritik, tiap hari di koran Kompas juga ada, itu semua isinya sindiran kan. Itulah cerminan dari negara kita," jelasnya. Artinya, kalau bikin meme yang menyindir kebijakan, misalnya kebijakan pajak naik, jalanan rusak, atau korupsi, itu adalah hak sebagai warga negara. Jadi, kalau kamu edit foto pejabat jadi badut untuk mengkritik "kinerjanya yang lucu kayak sirkus", itu masih bisa diperdebatkan sebagai kritik satir. Tapi, kalau kamu edit foto pejabat dengan gambar porno, atau menghina bentuk fisiknya alias body shaming, atau menuduh urusan rumah tangganya, itu ada potensi masuk ranah pidana.
Ngumpet di second account
Walaupun didukung ahli hukum, tapi dampak dari enggak jelasnya pasal karet di RKUHAP tetap bikin sejumlah Gen Z ketar-ketir buat mengkritik. Bisa jadi, orang jadi takut bicara bukan karena mereka salah, tapi karena mereka takut dicari-cari kesalahannya. Kharina adalah salah satu bukti nyata korban fenomena ini dan berujung enggak lagi berani bersuara lantang pakai akun aslinya di media sosial. Dia memilih "bergerilya" lewat akun anonim atau fan account yang biasanya digunakan untuk urusan K-Pop. "Kalau posting kritik lumayan sering meskipun bukan pake akun pribadi, mostly pakai fan account. Karena itu akun publik satu-satunya dan anonim, jadi lebih ngerasa aman," akunya sambil tertawa. Strategi hit and run pakai akun alter ini memang kerasa aman, tapi ini juga ironis. Bayangin aja, buat bertanya "uang pajak rakyat ke mana?", kita harus effort sembunyi di balik foto profil idol K-Pop atau karakter anime favorit kita. Zeta menambahkan, rasa takut blunder dan fakta yang diputarbalikkan menjadi alasan utama kenapa banyak Gen Z mulai mengerem setelah adanya pengesahan RKUHAP. "Aku sendiri nyoba kritik dalam batas wajar aja sih, enggak berani terlalu gimana-gimana, karena tetep takut blunder dan malah bisa diputerbalikin," kata Zeta. Apakah kita harus takut? Kondisi hukum negara kita memang enggak lagi baik-baik aja, tapi bukan berarti kita harus berhenti peduli. Dari wawancara panjang dengan para pakar hukum pidana, berikut rangkuman survival guide di tengah-tengah situasi ini biar kamu bisa tetap kritis dan juga aman:
1. Waspada Teman dan Jebakan
Sesuai peringatan Pak Fickar tadi, kita harus tetap waspada walaupun di ruang-ruang privat, seperti direct message medsos ataupun grup WhatsApp. Kalau ada orang yang terlalu agresif memancing buat ngejelek-jelekin politisi, bikin kerusuhan, apalagi sampai hal-hal radikal, mundur pelan-pelan! Ingat, entrapment itu nyata.
2. Kritik Kebijakan, Bukan Personal
Salah satu kunci buat selamat dari jeratan UU ITE adalah pastikan setiap meme atau tweet kamu punya basis argumen pada kebijakan publik. Do: "Kebijakan ini merugikan rakyat karena data menunjukkan..." Don't: "Pejabat X mukanya jelek kayak..." Paham sih, kadang-kadang meme yang lucu emang lebih sering masuk FYP atau hit tweet, tapi inget, jangan sampai kamu beneran ketemu sama bestie-mu itu di dalam sel yang udah kalian janjikan, ya!
3. Satir itu Boleh, Fitnah itu Jangan
Penggunaan gaya bahasa meme, sarkasme, atau karikatur itu dilindungi sebagai ekspresi seni dan demokrasi. Tapi jangan memanipulasi fakta sekadar untuk mencari sensasi atau menyulut amarah netizen yang kesabarannya setipis tisu dibagi dua, apalagi mengomentari urusan pribadi pejabat.
4. Tetap Bersuara
Kita bisa belajar dari kedua Gen Z yang membagikan ceritanya: Zeta dan Kharina yang mungkin merasa takut, tapi tetap sepakat buat mencari cara supaya suaranya tetap didengar, meski harus lewat cara-cara anonim. Sebagai pengacara publik LBH Jakarta, Fadhil Alfathan juga nitipin satu pesan untuk para Gen Z supaya tetap bersuara. “Ekspresi itu bukan sekedar ngomong, itu bagian dari kebutuhan masyarakat. Mau ada seribu yang dipenjara sekalipun, harus dan pasti akan tetap ada orang yang terus berisik,” kata dia.
5. Bangun Kesadaran Kolektif
Fadhil juga menegaskan kalau kita harus membuktikan pemidanaan negara terhadap masyarakat yang vokal mengkritik itu sia-sia. “Enggak ada pilihan lain selain mengkonsolidasikan kesadaran kolektif karena hukum yang jelek dan merugikan publik harus terus dipertanyakan dan diperbaiki,” ucapnya. Kalau kamu menyaksikan di lingkunganmu ada orang-orang yang menjadi korban penangkapan atau kriminalisasi sesuai prosedur, masyarakat juga harus bisa saling jaga. Pada akhirnya, negara demokrasi itu hidup dari suara-suara berisik warganya, frens. Kalau kita semua diam karena takut, siapa lagi yang bakal ngingetin mereka yang duduk di kursi empuk sana? Tetap bikin meme dan tetaplah berisik, tapi mulai sekarang, Gen Z harus jadi netizen yang lebih cerdik!