Mengenal SoftBank, Raksasa Investasi Jepang di Balik Grab dan GoTo Gojek

Erlita Irmania
By -
0

Sejarah dan Peran SoftBank dalam Bisnis Teknologi di Asia Tenggara

SoftBank Group Corp. adalah salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia yang bergerak di bidang teknologi dan telekomunikasi. Didirikan oleh Masayoshi Son pada 3 September 1981, perusahaan ini memiliki kantor pusat di Minato, Tokyo, Jepang. SoftBank dikenal dengan inisiatif-inisiatif besar seperti Vision Fund, yang bertujuan untuk mendanai startup teknologi global.

SoftBank juga memiliki portofolio investasi yang luas, termasuk saham di perusahaan besar seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Arm Holdings plc. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki bisnis operasional sendiri, seperti SoftBank Corp., yang merupakan operator telekomunikasi utama di Jepang.

Investasi SoftBank di GoTo Gojek Tokopedia

SoftBank menjadi salah satu pemegang saham terbesar GoTo Gojek Tokopedia. Menurut laporan tahunan 2024, saham GoTo dimiliki oleh investor asing sebesar 73,9%, termasuk SoftBank Group Jepang dan Taobao Holding, unit dari Alibaba Group Cina. SVF GT Subco (Singapore) Pte Ltd milik SoftBank dan Taobao merupakan dua pemegang saham teratas GoTo, masing-masing memegang 7,65% dan 7,43% saham.

Pada akhir 2022, anak usaha SoftBank yakni SVF GT Subco memiliki 103,12 miliar atau 8,71% saham GoTo Gojek Tokopedia. Porsinya menjadi 92,29 miliar atau 7,79% saham per Maret 2023, menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Kemudian SVF GT Subco menjual saham di GoTo Gojek Tokopedia setelah SoftBank Vicion Fund merugi ¥ 4,3 triliun atau sekitar Rp 471 triliun selama Januari – Maret 2023.

Investasi SoftBank di Grab

SoftBank pertama kali berinvestasi di Grab sebesar US$ 250 juta pada 2014, tepat saat pesaing Gojek ini mulai bersaing dengan Uber di Asia Tenggara. Dikutip dari CNBC Internasional, Grab mengumpulkan total pendanaan lebih dari US$ 6 miliar, dipimpin oleh SoftBank, perusahaan transportasi daring Tiongkok Didi Chuxing, dan Toyota Motor Corp per 2018.

Pada Maret 2019, Grab mengumumkan pendanaan dari Softbank Vision Fund atau SVF sebesar US$ 1,46 miliar, dikutip dari keterangan pers. Putaran pendanaan seri H itu diikuti oleh Toyota Motor Corporation, Oppenheimer Funds, Hyundai Motor Group, Booking Holdings, Microsoft Corporation, Ping An Capital, dan Yamaha Motor.

Pada Juli 2019, Grab mengumumkan investasi US$ 2 miliar untuk Indonesia selama lima tahun atau hingga 2025, melalui modal yang diinvestasikan oleh SoftBank dalam rangka mendukung pengembangan infrastruktur digital di Indonesia. Investasi itu disalurkan untuk membangun jaringan transportasi perkotaan generasi selanjutnya dan transformasi layanan penting seperti industri kesehatan.

SoftBank Tekan Grab dan Gojek untuk Merger

Dikutip dari Bloomberg pada Oktober 2020, pemegang saham membahas potensi kedua perusahaan menggabungkan semua operasional, atau Grab hanya mengakuisisi bisnis Gojek di Indonesia. Sumber mengatakan, CEO Grab Anthony Tan memilih untuk mengakuisisi pasar yang lebih sempit. Dengan begitu, perusahaan memiliki kendali yang lebih besar.

“Ini memungkinkannya menjalankan bisnis di Indonesia sebagai anak perusahaan Grab,” demikian kata sumber. Namun, ia tidak memerinci pasar yang dimaksud. Sementara itu, pemegang saham Gojek mendorong kombinasi di seluruh Asia Tenggara. “Ini karena mereka akan berakhir dengan lebih banyak bisnis yang digabungkan,” demikian kata sumber.

Pemegang saham Grab dan Gojek membujuk SoftBank untuk mendukung merger kedua perusahaan. Perusahaan investasi multinasional asal Jepang ini berinvestasi di kedua startup bernuansa hijau itu. SoftBank saat itu tertekan karena gagalnya penawaran saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) startup berbagi kantor WeWork 2019. WeWork akhirnya mendekati kebangkrutan, dan kesulitan membayar utang.

Isu Kembali Muncul tentang Merger Grab dan Gojek

Kabar Grab dan Gojek mengkaji merger sudah berhembus sejak 2018. Kini, isu itu mencuat kembali setelah Menteri Sekretaris Negara alias Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan Danantara atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara diajak berdiskusi terkait Perpres terkait taksi dan ojek online atau ojol.

"Berbagai macam (kementerian yang diajak diskusi). Sebab itu, kemudian ada juga Danantara yang ikut terlibat (dalam pembahasan Perpres)," kata Prasetyo di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/11).

Para wartawan kemudian bertanya apakah keterlibatan Danantara dalam diskusi terkait Perpres taksi online dan ojol itu terkait isu merger Grab dan Gojek yang sudah lama berhembus. “Ya salah satunya,” Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan jurnalis.

Prasetyo Hadi juga mengiyakan kabar bahwa Grab ingin membeli saham GoTo Gojek Tokopedia. “Rencananya begitu,” ia menambahkan. Selain itu, ia mengatakan bentuknya bisa berupa merger maupun akuisisi. “Sedang kami cari skemanya,” ujar dia.

Ia memastikan hubungan Grab dan Gojek tidak akan memonopoli. “Tidak,” kata Prasetyo Hadi. Sambil berlari kecil, ia mengatakan bahwa pembahasan wacana merger Gojek dan Grab maupun Perpres ojol bertujuan agar bisnis berbagi tumpangan tetap berjalan. Namun ia tidak mengetahui alasan kedua perusahaan berpotensi terhambatnya bisnisnya, sehingga pembahasan itu dilakukan.

Prasetyo hanya menjelaskan Grab dan Gojek menciptakan lapangan kerja. “Mitra pengemudi (taksi online dan ojol), jumlahnya cukup besar. Dan sekarang kami sadar bahwa ojol merupakan pahlawan ekonomi,” kata Prasetyo.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default