Perubahan Alur Sungai Batang Kuranji Mengancam Kehidupan Warga
Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu telah mengubah alur Sungai Batang Kuranji. Sebelumnya, sungai ini berjarak cukup jauh dari permukiman warga. Namun kini, aliran sungai justru semakin mendekati rumah-rumah warga dan terus menggerus tanah di sekitarnya.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi masyarakat setempat. Pantauan Erfa News di lokasi, Sabtu (3/1/2026), menunjukkan sedikitnya dua unit rumah berada dalam kondisi paling mengkhawatirkan. Jarak antara rumah dengan bibir sungai hanya sekitar satu hingga tiga meter. Struktur tanah di bawah bangunan tampak tidak rata dan terus terkikis oleh arus sungai.

Satu rumah diketahui telah dikosongkan oleh pemiliknya, sementara satu rumah lainnya masih dihuni oleh satu keluarga meski berada dalam kondisi rawan. Salah seorang warga, Juli, mengungkapkan bahwa sejak banjir bandang terjadi, air sungai terus menggerus tepian permukiman. Bahkan, sejak peristiwa tersebut hingga kini, tercatat sekitar empat unit rumah telah roboh dan hanyut terbawa arus.
“Dulunya aliran sungai itu jauh dari rumah kami. Setelah banjir bandang, alirannya berubah mendekat ke sini dan menggerus tanah di bawah rumah. Sejak kejadian itu, sekitar empat rumah sudah hanyut,” ujar Juli saat ditemui, Sabtu (3/1/2026).
Warga Mulai Kosongkan Rumah
Rumah milik Juli yang sebelumnya dihuni oleh orang tuanya kini telah dikosongkan. Seluruh barang-barang berharga sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Meskipun demikian, Juli mengaku masih terus memantau kondisi rumahnya dari kejauhan.
“Sayang rasanya, dari dulu kami tinggal di sini. Sekarang rumah sudah terancam seperti ini. Kami takut rumah ini tiba-tiba rubuh dan hanyut,” katanya. Ia pun berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan rumah warga dari ancaman abrasi sungai.
“Kami sangat memohon bantuan pemerintah. Kalau belum bisa membangun pondasi penahan, setidaknya aliran sungainya bisa diarahkan agar tidak terus menggerus ke sini,” tambahnya.
Ada yang Terpaksa Bertahan
Warga lainnya, Onang, mengaku terpaksa tetap bertahan di rumahnya yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari bibir sungai. Ia mengatakan tidak memiliki tempat lain untuk berlindung bersama keluarganya.
“Mau bagaimana lagi, kami terpaksa bertahan di sini karena tidak ada tempat lain,” ujarnya. Ancaman tersebut membuat Onang dan keluarganya tidak pernah merasa tenang. Suara deras aliran sungai kerap mengganggu waktu istirahat, terutama saat hujan turun.
Dalam kondisi tertentu, ia memilih mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman. Onang juga mengungkapkan bahwa sejak era 1990-an, pemerintah pernah menjanjikan pembangunan program pengendalian banjir di kawasan tersebut.

Namun hingga kini, janji itu belum juga terealisasi. “Dulu, waktu saya masih remaja, pemerintah pernah berjanji akan membuat pengendalian banjir. Sampai sekarang saya sudah tua, belum juga ada. Sekarang rumah saya pun sudah hampir rubuh,” katanya. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi agar aliran Sungai Batang Kuranji tidak kembali menghanyutkan rumahnya maupun rumah warga lainnya.
Air Sungai Meluap
Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji meluap menyebabkan ratusan warga di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terpaksa mengungsi akibat banjir susulan, Jumat (2/1/2026). Pantauan Erfa News di Perumahan Griya Kubu Tama hingga pukul 10.00 WIB menunjukkan hujan lebat masih mengguyur kawasan tersebut. Genangan air setinggi pinggang orang dewasa masih merendam pemukiman warga.
Perumahan Griya Kubu Tama diketahui berada tidak jauh dari aliran Sungai Batang Kuranji, dengan jarak sekitar 100 hingga 200 meter. Sejumlah warga tampak mengungsi ke tempat yang lebih aman sambil memantau kondisi rumah mereka dari pos ronda yang posisinya lebih tinggi dari kawasan perumahan.
Salah seorang warga, Nelmawati (40), mengatakan hujan mulai turun sejak Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Dua jam kemudian, air mulai masuk ke kawasan perumahan dan terus meningkat hingga Jumat pagi.
“Sejak tadi malam setelah salat Isya hujan mulai lebat. Sekitar pukul 22.00 WIB air mulai naik. Sampai sekarang hujan belum reda dan air juga terus bertambah,” ujarnya. Menurut Nelmawati, sedikitnya lebih dari 40 rumah di perumahan tersebut terdampak banjir. Namun, warga telah melakukan evakuasi mandiri lebih awal karena banjir kerap berulang terjadi di kawasan itu.
“Alhamdulillah semua warga aman. Karena banjir sudah sering terjadi, masyarakat sudah stand by. Begitu air naik, langsung mengungsi ke tempat aman,” katanya. Ia menambahkan, sebagian warga sebelumnya sempat kembali ke rumah setelah membersihkan sisa banjir. Namun, hujan lebat yang kembali turun memaksa mereka mengungsi lagi.
Nelmawati juga menjelaskan, pasca banjir bandang pada akhir November 2025 lalu, aliran Sungai Batang Kuranji dipenuhi lumpur dan sedimen. Kondisi tersebut menyebabkan sungai mudah meluap meski hujan hanya turun selama beberapa jam. Selain itu, posisi perumahan yang lebih rendah dan hampir sejajar dengan permukaan sungai turut memperparah dampak banjir. Kiriman air dari drainase di kawasan yang lebih tinggi juga mengalir ke permukiman warga.
“Posisi perumahan ini memang lebih rendah. Air dari bagian atas semuanya mengalir ke sini, ditambah posisi sungai hampir sama tinggi dengan perumahan, jadi banjir gampang terjadi,” jelasnya.