Ringkasan Berita:
- Ibu dan dua anaknya ditemukan tewas dengan mulut berbusa di kontrakan Warakas, Tanjung Priok, pada Jumat (2/1/2026), sementara satu orang lainnya kritis.
- Kriminolog UI, Adrianus Meliala, menduga para korban meninggal akibat keracunan bahan kimia sejenis sianida berdasarkan ciri busa dan ruam pada jenazah.
- Polres Metro Jakarta Utara masih melakukan otopsi dan olah TKP guna memastikan penyebab pasti kematian melalui pemeriksaan Laboratorium Forensik.
Erfa NewsPenyebab kematian satu keluarga yang ditemukan di sebuah kontrakan kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, belum terungkap.
Satu keluarga itu terdiri dari ibu berinisial S (50), dan dua anaknya, wanita inisial AA (27) dan bocah laki-laki berinisial AA (13).
Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, menduga bahwa satu keluarga itu meninggal akibat keracunan bahan kimia diduga sianida.
Prediksi ini berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan pada ketiga jasad itu.
"Ini tampaknya keracunan, keracunannya jenis apa?"
"Tampaknya kalo dilihat dari segi ada busa (di mulut para korban), kemudian tubuh melepuh."
"Ini kena kimia seperti sianida yang kemudian membuat tampilan tubuh seperti itu," jelas Adrianus dalam program Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Sabtu (3/1/2025).
Kendati begitu, Adrianus menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena harus menunggu hasil pemeriksaan.
"Tapi tentu dari segi kepastiannya harus menunggu pemeriksaan laboratorium dulu," tuturnya.
Siapa Adrianus Eliasta Sembiring Meliala?
-
Sosok Adrianus Meliala
Adrianus Eliasta Sembiring Meliala atau yang lebih dikenal dengan Adrianus Meliala merupakan pakar bidang kriminologi dan kepolisian, serta tercatat sebagai dosen di Departemen Kriminologi Universitas Indonesia.
Selain itu, Adrianus Sembiring Meliala juga dikenal sebagai penulis dan peneliti yang berhubungan dengan masalah-masalah kriminologi, terutama yang berkaitan dengan polisi dan kejahatan trans-nasional.
Adrianus Sembiring Meliala juga pernah ditunjuk Menteri Hukum dan HAM menjadi Ketua Balai Pertimbangan Pemasyarakatan pada tahun 2009.
Adrianus Sembiring Meliala lahir di Sungai Liat, Pulau Bangka pada 28 September 1966.
Pria berusia 56 tahun itu menghabiskan masa sekolahnya di Jakarta Barat.
Beliau mulai menempuh pendidikannya dengan masuk ke Sekolah Dasar Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat.
Pada saat kelas III SD, ayahnya meninggal dunia pada usia 35 tahun akibat terserang kanker.
Saat sang ayah masih hidup, kebutuhan Adrianus, ibunya dan kedua adiknya tercukupi secara baik dengan menerapkan pola hidup sederhana.
Mau tidak mau, setelah kepergian sang ayah, ibunya harus mengambil alih seluruh peran untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
Maka tak heran, alasan dibalik suksesnya Adrianus Sembiring Meliala saat ini adalah berkat sang ibu.
Pada tahun 1985, Adrianus Sembiring Meliala ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Disana ia mengambil jurusan Kriminologi.
Ia memutuskan untuk masuk ke jurusan tersebut lantaran tak banyak peminat sementara quotanya lumayan.
Di jurusan itu dia melihat peluang cukup besar untuk diterima.
Ia pun mendaftar dan ikut ujian seleksi tanpa mengetahui dengan jelas apa yang akan dia pelajari, dan bagaimana peluang kerja lulusan kriminologi.
Saat masih di bangku kuliah, dia sempat magang dan bekerja di sebuah majalah sebagai wartawan.
Honor yang dia peroleh dari kerja tersebut ia bagikan kepada ibu dan adik-adiknya.
Karena sudah dirasa sanggup mencari uang, sang ibu kemudian menyuruhnya untuk menikah.
Setelah menikah, ia mendapatkan tawaran beasiswa untuk kuliah ke The Manchester Metropolitan University, Inggris.
Hal itu sempat membuat ia dilema karena harus meninggalkan sang istri.
Namun karena tekadnya ia tetap pergi dan memperoleh Master Psikologi Kriminal dari Universitas yang berada di Inggris itu.
Pada tahun 1998 Adrianus Sembiring Meliala kembali meninggalkan sang istri untuk menempuh pendidikan Doctornya ke University of Queensland Australia.
Setelah meraih gelar doktor, Adrianus tidak hanya tinggal diam. Hasil penelitian disertasinya ia olah menjadi beberapa tulisan ilmiah yang ia kirimkan ke jurnal-jurnal internasional. Enam buah karya ilmiahnya dimuat di jurnal internasional. Di usianya yang masih 35 tahun, Adrianus dilantik menjadi professor atau guru besar.
-
Riwayat Pendidikan Adrianus Sembiring Meliala
Guru Besar Universitas Indonesia
Criminology, S3, University of Queensland Australia
Legal and Criminological, Manchester Metropolitan University Inggris
Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia
SMA Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat
SMP Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat
SD Perguruan Katolik Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat
-
Riwayat Pekerjaan Adrianus Sembiring Meliala
Pengajar di Universitas Indonesia
Expert Advisor Kepala Kepolisian RI
Penasihat di beberapa lembaga negara
Advisor bagi lembaga donor seperti UNDP, IOM, UNICEF, ILO, JCLEC
Kepala Departemen Kriminologi Universitas Indonesia
Komisioner Komisi Kepolisian Indonesia
Ketua Dewan Guru Besar FISIP Universitas Indonesia
Anggota Ombudsman Republik Indonesia
Kronologi Temuan Jasad Sekeluarga di Rumah Kontrakan
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar, menjelaskan kronologi temuan jasad ibu dan dua anaknya di rumah kontrakan itu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, peristiwa tersebut pertama kali diketahui salah satu anak korban yang baru pulang bekerja.
"Keterangan awal dari anaknya yang pulang kerja itu, buka pintu kemudian mendapati keluarganya dalam kondisi tiduran tapi mengeluarkan busa," ujar Seno saat ditemui di Polres Metro Jakarta Utara, Jumat (2/1/2026).
Anak tersebut langsung meminta pertolongan dari warga sekitar.
Seno mengatakan, kondisi ketiga jenazah korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa dan terdapat ruam di bagian tubuhnya.
"Ya itu juga masih dalam pemeriksaan ya. Artinya yang secara kasat mata memang ada ruam merahnya," ujar dia.
Ada satu orang lainnya yang ditemukan dalam kondisi kritis.
Penyebab Kematian Masih Diselidiki
Meskipun demikian, Seno belum bisa menjelaskan penyebab korban tewas.
"Namun, penyebabnya apa atau sebanyak apa karena apa, masih dalam pemeriksaan dari dokter forensik yang menangani," ucap dia.
Saat ini, ketiga jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Polri untuk menjalani pemeriksaan luar dan otopsi.
"Untuk ketiga korban ini sendiri juga saat ini sedang dilakukan pemeriksaan luar dan otopsi di Rumah Sakit Polri," tambah Seno.
Hingga Jumat (2/1/2026) malam, polisi masih olah tempat kejadian perkara.
Sejumlah barang dari dalam rumah kontrakan disita untuk kepentingan penyelidikan dan akan diperiksa bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor).
Pihak kepolisian sudah mulai memeriksa sejumlah saksi, termasuk dua anggota keluarga korban yang saat kejadian sedang bekerja dan korban yang selamat.
"Jadi ada saksi juga yang dari bagian dari keluarga, status mereka adalah putra dari salah satu korban juga, ya. Itu juga sedang kita lakukan pemeriksaan," tambah Seno.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung