5 Fakta Penting Penjualan F-35 ke Arab Saudi yang Mengubah Keseimbangan Asia Barat

Erlita Irmania
By -
0
5 Fakta Penting Penjualan F-35 ke Arab Saudi yang Mengubah Keseimbangan Asia Barat

Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi ke Washington DC

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), akan melakukan kunjungan ke Washington DC untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Agenda utama dari pertemuan ini adalah membahas rencana penjualan 48 jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi. Penjualan ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama pertahanan antara dua negara sekaligus menarik investasi global.

Kunjungan MBS ke AS ini menjadi perhatian khusus karena berpotensi menghasilkan transaksi militer yang sangat sensitif. Ini merupakan pertama kalinya MBS berkunjung ke AS sejak pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada tahun 2018. Pembunuhan tersebut memicu kecaman internasional dan membuat komunitas intelijen AS menyimpulkan bahwa MBS menyetujui operasi yang menyebabkan kematian Khashoggi. Meski demikian, MBS selalu membantah tudingan tersebut.

Trump telah merancang agenda intensif yang mencakup pertemuan di Ruang Oval, makan siang di Ruang Kabinet, serta jamuan makan malam resmi. Salah satu faktor pendorong AS adalah komitmen investasi senilai 600 miliar dolar AS dari Arab Saudi. Investasi ini diharapkan mulai diaktifkan melalui kesepakatan yang mencakup sektor pertahanan, manufaktur, teknologi, dan investasi jangka panjang lainnya.

Mengapa F-35 Lebih Penting dari Jet Tempur Lain?

Lockheed Martin F-35 dikenal sebagai salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia. Pesawat ini memiliki kemampuan unik seperti:

  • Teknologi siluman untuk menghindari radar canggih
  • Sensor intelijen generasi lanjut
  • Kemampuan serangan presisi jarak jauh
  • Integrasi operasi dengan pasukan darat, laut, dan drone

F-35 telah digunakan dalam operasi nyata, termasuk melawan ISIS di Irak dan Suriah. Israel juga menggunakan F-35 dalam misi ofensif melawan Iran. Program ini dikembangkan bersama AS dan sejumlah sekutu seperti Inggris, Italia, Kanada, Denmark, Belanda, Norwegia, dan Australia. Harga satu unit F-35 mencapai lebih dari 100 juta dolar. Ekspor F-35 sangat dibatasi oleh AS karena sensitivitas teknologinya.

Mengapa Arab Saudi Membutuhkan F-35?

Bagi Arab Saudi, akuisisi F-35 terkait dengan ancaman keamanan dari Iran dan kelompok bersenjata yang didukung Teheran. Riyadh melihat kemampuan udara mutakhir sebagai penyeimbang paling efektif. Integrasi dengan sistem militer AS dianggap penting sebagai jaminan keamanan jangka panjang. Kesepakatan besar dengan AS juga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas jangka panjang Saudi, terutama dalam pengembangan industri AI, infrastruktur cloud, dan sektor teknologi lainnya.

Bagaimana Israel Akan Bereaksi?

AS terikat pada komitmen legal untuk menjaga Keunggulan Militer Kualitatif (QME) Israel di Timur Tengah. Saat ini, Israel adalah satu-satunya operator F-35 di wilayah tersebut, menjadikannya elemen utama strategi deterrence. Israel sangat bergantung pada keunggulan udara sejak perang Gaza 7 Oktober 2023 dan konflik dengan pasukan pro-Iran di Lebanon, Yaman, dan Suriah. Respons Israel terhadap isu penjualan ini cukup hati-hati.

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, mengatakan tidak ada indikasi bahwa keunggulan kualitatif Israel akan terganggu. Namun, penjualan F-35 ke Saudi menjadi manuver diplomatik rumit bagi AS, dengan menjaga Israel tetap unggul sambil merangkul Arab Saudi.

Apa Harapan AS kepada Saudi?

AS berharap kerja sama pertahanan dapat mendorong Arab Saudi bergabung dalam Abraham Accords, perjanjian yang menormalisasi hubungan antara Israel dengan UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan pada 2020. Bagi pemerintahan Trump, partisipasi Saudi akan menjadi pencapaian diplomatik bersejarah. Namun, perang Gaza telah memicu kemarahan di dunia Arab. Arab Saudi menegaskan, tidak akan menormalisasi hubungan tanpa kemajuan nyata menuju negara Palestina.

Bagaimana Peran China dalam Kesepakatan Ini?

Kekhawatiran terbesar AS adalah risiko kebocoran teknologi F-35 ke China. Laporan terbaru Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) menyebutkan, kemungkinan akses tidak langsung China karena hubungan keamanan yang semakin erat dengan Arab Saudi. AS pernah mengambil tindakan ekstrem pada 2019, ketika Turki dikeluarkan dari program F-35 karena membeli sistem rudal S-400 Rusia. AS khawatir pengoperasian F-35 bersamaan dengan sistem asing dapat mengungkapkan data sensitif pesawat.

Potensi Pergeseran Keseimbangan di Asia Barat

Selain jet tempur, Arab Saudi juga mengejar kerja sama nuklir sipil dengan AS melalui “perjanjian 123”, kerangka yang mengatur kerja sama nuklir sipil dengan pengawasan ketat Kongres. Saudi menyatakan, program ini murni untuk energi dan bukan militer, meski kerja samanya dengan Pakistan, yang merupakan negara bersenjata nukli, menimbulkan keraguan di Washington.

Jika penjualan F-35 disetujui, Arab Saudi akan mengalami lompatan besar dalam kekuatan udara. Keberadaan F-35 saja sudah cukup mengubah kalkulasi strategis Iran dan kelompok proksinya. Kesepakatan ini juga dapat membantu AS menahan pengaruh China di Teluk, salah satu tujuan strategis AS.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Meskipun Trump telah memberi lampu hijau, keputusan akhir tetap berada di tangan Kongres. Jika disetujui, masih belum jelas bagaimana pesanan F-35 akan memengaruhi rencana pengadaan pesawat lainnya di Saudi, termasuk Boeing F-15EX, Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale, yang semuanya bersaing untuk kontrak besar Saudi. Arab Saudi juga masih mempertimbangkan opsi modernisasi angkatan udara melalui armada campuran.


Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default