Saat GERD Menyerang, Ini Fakta Bahaya yang Harus Diketahui

Erlita Irmania
By -
0

Penyakit yang Tidak Terlihat, Tapi Bisa Mematikan

Ribuan orang tidak menyadari bahwa keluhan sederhana seperti tenggorokan terasa panas atau dada terasa hangat bisa berubah menjadi penyakit yang sangat berbahaya. GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) bukan sekadar gangguan pencernaan, melainkan kondisi yang bisa dianggap sebagai bom waktu jika tidak diatasi sejak dini.

Ada banyak orang yang merasa sulit untuk membangun relasi baru saat usia bertambah. Saya setuju dengan pendapat ini karena lingkaran pertemanan semakin sempit. Mereka hanya memiliki teman dari lingkungan kerja, komunitas, dan keluarga terdekat saja.

Namun, saya bersyukur masih memiliki seorang sahabat. Kami awalnya bekerja di tempat yang sama, lalu ia memutuskan untuk resign dan pindah ke Amerika Serikat setelah mendapatkan green card. Jarak antara Jakarta dan Amerika membuat kami sulit bertemu secara rutin. Namun, teknologi internet membantu kami tetap menjaga komunikasi melalui aplikasi WhatsApp. Meski ada perbedaan waktu sekitar 8-11 jam, kami tetap bisa berkomunikasi setiap hari.

Beberapa hari lalu, sahabat saya mengeluh sakit dada dan punggung yang sangat parah. Ia sudah berkonsultasi dengan dokter primary, namun janji temu hanya bisa dilakukan pada tanggal 3 Desember, padahal rasa sakitnya sudah dimulai sejak 19 November. Ia sangat khawatir dan suaminya takut itu adalah serangan jantung.

Saya pun ikut khawatir dan menyarankan agar ia segera ke ER. Karena tidak memiliki kenalan dokter, saya mencari informasi di chatgbt.com tentang gejala sakit dada dan punggung. Dijawab bahwa gejala tersebut bukanlah tanda sakit jantung. Dokter menyebutkan ciri-ciri sakit jantung seperti nyeri dada, sesak napas, kelelahan berlebihan, detak jantung tidak teratur, pusing, mual, keringat dingin, dan nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lain.

Setelah mengetahui informasi tersebut, sahabat saya sedikit lega. Namun, lehernya juga mulai sakit. Akhirnya, ia segera dilarikan ke ER. Setelah pemeriksaan EKG, hasilnya baik dan ia diberi obat. Sayangnya, obat tersebut tidak berhasil menyembuhkan penyakitnya. Setelah beberapa hari, ia akhirnya bertemu dengan salah satu dokter jaga dan akhirnya didiagnosis menderita GERD.

Bahaya Asam Lambung

Kelompok keluarga saya juga memiliki anggota yang menderita asam lambung. Suami saya pernah mengalami tiga kali asam lambung naik ke pernapasan sehingga tidak bisa bernapas. Kejadian ini terjadi pada malam hari sekitar jam 2.00. Saya hanya bisa pasrah dan berdoa. Pagi harinya, saya meminta suami ke dokter, tapi dia menolak. Akhirnya, setelah tiga kali kejadian, dia ke dokter spesialis penyakit dalam dan ditemukan penyakit GERD.

Anak saya juga mengalami gejala serupa, yaitu tenggorokan terasa panas dan tidak enak makan. Dia pergi ke dokter THT dua kali, dan kedua dokter menyatakan bahwa penyebabnya adalah amandel. Mereka menyarankan operasi. Kami ragu, lalu pergi ke Penang. Di sana, dokter THT menggunakan alat canggih yang mampu mendeteksi dari mulut hingga usus dan menemukan luka akibat GERD yang menyebabkan tenggorokannya terasa sakit.

Apa Itu GERD?

Bayangkan setelah makan malam pedas dan berlemak, kita rebahan sambil menonton film, tiba-tiba dada terasa seperti terbakar. Kadang sensasi asam naik ke tenggorokan, bahkan terasa pahit di mulut. Itulah gejala GERD yang muncul secara tiba-tiba dan mengganggu kualitas hidup.

GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Penyebab utamanya adalah melemahnya katup LES (Lower Esophageal Sphincter) yang seharusnya menutup rapat antara lambung dan kerongkongan. Akibatnya, muncul gejala seperti sensasi terbakar di dada, regurgitasi, rasa asam atau pahit di mulut, dan bisa juga batuk atau gangguan saat menelan jika kondisi kronis. Dalam jangka panjang, iritasi atau peradangan esofagus yang dibiarkan bisa menyebabkan komplikasi serius.

Siapa yang Rentan Terkena GERD?

Dalam beberapa artikel ilmiah, tidak dapat ditentukan secara pasti siapa saja yang rentan menderita GERD. Bisa saja orang tua, usia muda, bahkan anak-anak.

Faktor risiko antara lain: * Gaya hidup: konsumsi makanan pedas, berlemak, asam, minum kopi, teh, minuman tertentu, makan tidak teratur, makan malam terlalu larut, dan rebahan setelah makan. * Berat badan berlebihan atau obesitas. * Kebiasaan merokok dan konsumsi obat tertentu. * Melemahnya katup LES disebabkan faktor usia, hernia hiatus, atau kebiasaan merokok. * Gangguan pencernaan: pengosongan lambung lambat dan produksi asam lambung berlebih.

Hidup Sehat Tanpa GERD

Jika kamu sejak muda suka makan sambal yang sangat pedas, ubahlah gaya hidupmu. Berikut ini beberapa tips untuk menghindari GERD: * Atur pola makan: hindari makanan terlalu pedas, asam, berlemak, atau terlalu berat sebelum tidur. Usahakan makan teratur dan tidak terlalu larut malam. * Perhatikan porsi dan frekuensi: makan dengan porsi seimbang, jangan terlalu banyak. * Hindari kebiasaan sebagai pemicu: contohnya merokok, minum terlalu banyak kopi/the/minuman asam/berkafein, atau alkohol. * Jaga berat badan ideal: hindari obesitas berlebihan. * Hindari berbaring langsung setelah makan. Beri jeda waktu sebelum rebahan setelah makan. * Gaya hidup sehat: olahraga rutin, kurangi stres, cukup tidur, dan hindari gaya hidup pasif. * Konsultasi medis: jika gejala sering muncul, segera periksa ke dokter untuk penanganan tepat.

Dulu, suami saya menganggap sulit bernapas dan panas dada terbakar itu biasa setelah makan pedas. Tapi setelah mengenal GERD, ia mulai mengubah gaya hidup, seperti makan oatmeal di pagi hari, tidak minum kopi, dan mengonsumsi obat GERD sebelum tidur.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default