Merekayasa Makna: Catatan Acak Seorang Jenderal

Erlita Irmania
By -
0


Sejak kecil, kita sering diarahkan untuk berpikir dalam satu narasi tunggal: fokus. Di sekolah, kita dipandu untuk memilih jurusan IPA atau IPS. Di universitas, kita masuk prodi yang lebih spesifik lagi. Di dunia kerja, kita diharapkan menjadi ahli di satu bidang sempit. "Jadilah dokter gigi," atau "Jadilah akuntan publik," atau "Jadilah programmer AI." Sejak dini, sadar atau tidak, cara berpikir kita sudah dikotak-kotakkan.

Narasi ini tidak sepenuhnya salah. Dunia jelas membutuhkan spesialis. Kita butuh dokter bedah saraf yang tahu persis letak mili-mikron pembuluh darah di otak. Kita butuh insinyur sipil yang tahu persis beban tekan beton jembatan.

Tapi, bagaimana dengan kita-kita yang pikirannya tidak bisa diam di satu kotak yang sama?
Bagaimana dengan orang-orang yang pagi hari membaca jurnal hasil riset terbaru mikrobiologi, siangnya memikirkan dampak Artificial Intelligence (AI) terhadap kesepian manusia, sorenya menganalisis situasi sosial budaya ekonomi politik nasional, dan malamnya merenungkan filsafat?

Selama puluhan tahun, aku sering disindir sebagai orang yang "tidak fokus". Namun, setelah melalui perjalanan panjang, dan setelah menulis 800 artikel di Erfa News sejak 2012, aku menemukan istilah yang lebih tepat dan membebaskan: Generalis.

Artikel ini adalah sebuah pembelaan, sekaligus perayaan, bagi cara berpikir yang melompat-lompat itu. Sebuah upaya untuk merekayasa makna dari hal-hal yang tampak random.

Biologi Konektivitas: Mengapa Kita Harus Menghubungkan Titik?

Latar belakang pendidikanku adalah Biologi. Di kampus FMIPA Universitas Sumatera Utara dua dekade lalu, aku belajar bahwa tidak ada satu pun entitas biologis yang berdiri sendiri. Sebuah pohon di hutan hujan tropis tidak sekadar berdiri tegak. Akarnya terhubung dengan jaringan jamur (mikoriza) di bawah tanah, saling bertukar nutrisi dan informasi dengan pohon lain.

Tubuh kita pun sama. Kesehatan mental (psikologi) ternyata sangat dipengaruhi oleh kesehatan bakteri di usus (mikrobiologi). Alam semesta bekerja melalui koneksi, bukan isolasi. Sayangnya, peradaban modern kita dibangun di atas fragmentasi (pemisahan). Kita memisahkan ekonomi dari ekologi, memisahkan sains dari spiritualitas, memisahkan pekerjaan dari kehidupan.

Akibatnya? Kita sering kehilangan gambaran besar. Kita punya banyak ahli yang tahu segalanya tentang "sedikit hal", tapi kekurangan orang yang mampu melihat bagaimana "sedikit hal" itu mempengaruhi "segalanya". Hal ini memberikan kontribusi signifikan terhadap kejomplangan peradaban manusia.

Di sinilah peran seorang generalis menjadi krusial.

Menjadi Generalis Bukan Berarti Dangkal

Menjadi generalis bukan berarti dangkal. Bukan sekadar Jack of all trades, master of none. Di era abad ke-21 ini, menjadi generalis adalah kemampuan interdisipliner. Kemampuan untuk meminjam kacamata biologi saat melihat masalah sosial. Kemampuan meminjam logika algoritma komputer saat membedah birokrasi pemerintahan.

Ketika aku menulis tentang tips kesehatan saat traveling, aku tidak sedang menjadi travel blogger. Aku sedang menggunakan pengetahuan tentang fisiologi untuk membedah aktivitas travelling saat liburan. Titik-titik yang berbeda itu, jika dihubungkan, menghasilkan sebuah insight baru yang segar.

Mengapa "Random"?

Seringkali teman-temanku bingung melihat feed tulisan atau topik obrolanku. "Gus, kamu ini sebenernya bahas apa sih? Kok random banget?"

Dulu aku sempat minder dibilang random. Sekarang, aku tersenyum penuh makna. Kata "Random" sering disalahartikan sebagai kekacauan. Padahal, bagi seorang generalis, random adalah pola yang belum terlihat oleh mata awam.

Mutasi genetik terlihat acak, tapi itulah mesin pendorong evolusi kehidupan. Pergerakan pasar saham harian terlihat acak, tapi ada sentimen global yang menggerakkannya.

Dalam kumpulan catatanku yang akan segera kubukukan dengan judul yang sama dengan artikel ini, keacakan itu adalah sebuah kejujuran. Pikiran manusia itu tidak linier seperti jalan tol. Pikiran manusia itu rimbun, bercabang, dan liar seperti hutan belantara. Memaksa pikiran untuk selalu "satu tema" justru mematikan kreativitas.

Justru di dalam "keacakan" itulah seringkali tersembunyi solusi-solusi inovatif. Bukankah ide Velcro (perekat) ditemukan karena seorang insinyur yang random mengamati biji tanaman yang menempel di bulu anjingnya? Solusi teknis ditemukan di dunia botani. Itu adalah kemenangan berpikir generalis.

Merekayasa Makna: Sebuah Kerja Aktif

Lantas, kenapa aku menggunakan frasa "Merekayasa Makna"? Kita sering mendengar istilah "mencari makna hidup". Seolah-olah makna itu adalah harta karun yang sudah jadi, tersembunyi di dalam peti, menunggu ditemukan.

Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia Research & Development (R&D), aku punya pandangan berbeda. Produk bagus itu tidak ditemukan; produk bagus itu dibuat. Nata de coco tidak serta merta muncul dari air kelapa; ia harus dikondisikan, diberi starter Acetobacter xylinum, dijaga pH-nya, dan diperlakukan dengan tepat agar terbentuk lapisan selulosa yang kenyal, rata dan mulus.

Begitu juga dengan Makna.
Makna hidup tidak datang dari langit. Makna tidak ditemukan saat kita melamun di pinggir pantai. Makna harus direkayasa. Kita harus aktif membenturkan pengalaman pahit dengan logika agar menjadi pelajaran. Kita harus aktif merajut informasi yang berserakan menjadi pengetahuan. Kita harus "mengolah" data mentah kehidupan menjadi kebijaksanaan.

Menulis di Erfa News, bagiku, adalah laboratorium rekayasa itu.
Setiap artikel adalah eksperimen. Aku mengambil data dari bacaan, mencampurnya dengan pengalaman pribadi, memanaskannya dengan opini kritis, lalu menyajikannya kepada teman-teman pembaca. Kadang hasilnya renyah, kadang sepet, kadang anyep. Tapi proses merekayasa itulah yang membuat otak tetap hidup. Proses itulah yang menjaga kewarasan di tengah gempuran informasi sampah di media sosial.

Generalis di Era AI

Terakhir, izinkan aku sedikit menyinggung tentang masa depan. Kita kini hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence (AI). Banyak yang takut AI akan menggantikan manusia. Ya, AI akan menggantikan spesialis yang kerjanya repetitif. AI bisa mendiagnosa penyakit lebih cepat dari dokter umum. AI bisa membuat kode program lebih cepat dari programmer.

Tapi, AI (setidaknya saat ini) masih kesulitan menjadi Generalis yang berperasaan. AI bekerja berdasarkan database masa lalu. Manusia bekerja dengan intuisi dan koneksi emosional. Kemampuan untuk menghubungkan rasa sedih mendengarkan lagu galau dengan teori termodinamika, itulah keunikan manusia.

Kemampuan berpikir melebar (lateral thinking) aka "out of the box" adalah benteng pertahanan kita.
Jadi, untuk teman-teman Kompasianer dan pembaca sekalian yang merasa minatnya "terlalu banyak" atau pikirannya "terlalu random": Jangan minder. Dunia butuh orang-orang seperti kita. Dunia butuh para perajut ide. Dunia butuh para perekayasa makna yang berani melompati pagar-pagar disiplin ilmu.

Teruslah berpikir random. Teruslah menuliskan hal-hal yang tampaknya tidak nyambung. Karena siapa tahu, satu paragraf "random" yang kita tulis hari ini, adalah potongan puzzle yang sedang dicari orang lain untuk melengkapi makna hidupnya.

Salam Generalis.
(Ajuskoto. Serang Banten. 26 Desember 2025)

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default