Pandangan: Republik Anak Tunggal

Erlita Irmania
By -
0
Pandangan: Republik Anak Tunggal

Oleh: Dominggus Elcid Li 

Kepala Eksekutif IRGSC (Institut Pengelolaan Sumber Daya dan Perubahan Sosial).

Erfa NewsMasalah anak yang terlalu dimanjakan biasanya hanya menjadi isu keluarga, namun dalam kasus Republik Indonesia, hal ini telah berubah menjadi isu yang menyangkut masyarakat umum.

Awalnya, anak yang manja hanya menjadi masalah bagi orang tua yang tidak mampu menjalankan tugas mendidik anak (parenting), tetapi hal ini berubah menjadi isu masyarakat ketika orang tua ikut membawa anak, keponakan, dan menantu mereka ke ruang-ruang umum.

Ketidakdisiplinan orang tua dalam membedakan berbagai ruang tersebut memiliki dampak merusak, baik terhadap anak, keponakan, dan menantu secara langsung, maupun terutama terhadap struktur politik negara.

Hal ini terjadi ketika para anak muda yang dianggap paling dijaga diberi kesempatan untuk memimpin berbagai organisasi publik.

Peristiwa ini merupakan kejadian yang umum, tidak hanya terjadi di Jakarta tetapi juga menyebar hingga ke berbagai daerah di seluruh negeri.

Hal yang paling mudah untuk menguji 'tingkat anak manja' terlihat saat terjadi krisis, segala bentuk penampilan visual serta berbagai dramaturgi yang biasanya diatur oleh kalangan kaya dan berkuasa tiba-tiba menjadi 'telanjang'.

Orang-orang yang digambarkan mampu ternyata tidak bisa bertindak saat menghadapi krisis yang nyata.

Kondisi krisis atau tantangan yang tidak dikenal memaksa pemimpin untuk bertindak dengan 'pikiran gerilya' (mengidentifikasi, memetakan, dan melaksanakan).

Namun, dalam sifat anak yang manja, pengalaman yang setara tidak diperoleh pada tahap pembinaan membuat mereka tidak memiliki bekal untuk bergerak.

Ditambah pula berbagai fasilitas yang biasanya menjadi keinginan membuat persatuan hati dengan rakyat, tetap hanya berada dalam ranah kata-kata.

Seribu kali buih mengalir dari mulut saat berbicara, tetapi tidak berarti apa-apa jika seorang pemimpin tidak hadir dalam dunia rakyatnya sendiri.

Tubuh politik yang rusak 

Setiap kali membicarakan republik dalam ruang publik, hal yang muncul dan paling mendominasi khayalan para pejabat kita biasanya hanya sampai pada tahap upacara baris berbaris.

Ini wajar karena pada tahap awal para promotor Indonesia menjalankan tugas 'Sodara Tua' dalam melaksanakan agenda Asia Timur Raya.

Beberapa atribut yang diperkenalkan pada tahap awal merupakan bagian dari penghasutan dan promosi Dai Nippon. Saat ini, dengan berbagai cara, orang diajarkan untuk bisa 'membeli seragam'.

Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Rekrutmen organisasi yang penting di republik tercoreng oleh tindakan tidak terpuji dari anak durhaka. 2. Proses perekrutan anggota organisasi yang krusial di negara ini tercemar akibat perilaku buruk dari individu yang tidak bertanggung jawab. 3. Pemilihan anggota organisasi yang berpengaruh di republik ini terganggu oleh tindakan tidak baik dari para anak yang tidak disiplin. 4. Rekrutmen lembaga penting di negara ini tercoreng karena adanya praktik jelek dari anak-anak yang tidak berbudi. 5. Kegiatan perekrutan organisasi yang strategis di republik ini tercemar akibat tindakan tidak terpuji dari generasi muda yang tidak bertanggung jawab.

Banyak orang tua sibuk membeli jabatan berbagai seragam, agar anak-anak mereka dapat diterima di berbagai lembaga pemerintah.

Bila seluruh peristiwa ini dianggap biasa dan praktik tersebut dilakukan di mana-mana, maka sulit bagi sistem check and balance untuk diterapkan.

Di dalam partai politik keadaannya hampir serupa. Fenomena 'anak mama' dan 'anak bapak' juga menjadi isu yang berbeda.

Belum lagi masalah kekerabatan yang membuat partai politik semakin mirip dengan dukun beranak.

Bagaimana mungkin isu-isu yang membutuhkan pemikiran kritis justru diisi dengan perdebatan-perdebatan yang bersifat primordial seperti ini?

Tanpa adanya disiplin dan integritas dalam bertindak, pergerakan organisasi politik kita hanyalah seperti gerakan 'rumah domino', yang akan roboh begitu saja ketika terkena angin.

Jalan buntu meritokrasi 

Masalah kaderisasi yang menitikberatkan pada prinsip meritokrasi, yaitu tradisi yang memungkinkan individu terbaik berada di posisi kepemimpinan organisasi, sudah lama menghilang akibat tren anak bawang.

Orang tua yang tidak bijaksana yang meletakkan anak-anak yang belum dewasa di berbagai lembaga umum turut serta merusak tradisi kesetaraan republik.

Dampak jangka panjang dari kebiasaan menggandeng anak-anak yang merusak berbagai organisasi publik saat ini sudah terasa.

Para pemimpin negara yang muncul di pucuk pimpinan tertutup oleh awan gelap. Tidak bersinar.

Jika ingin bersinar, harus dibantu oleh para penggemar dan pendukung yang benar-benar merusak. Dengan alasan kelaparan dan upah materi, orang-orang mulai terbiasa menipu kepentingan umum.

Pengambilalihan berbagai perasaan yang rumit digunakan sebagai alasan untuk membenarkan berbagai tindakan jahat menjadi dorongan banyak orang untuk melakukan kejahatan. Hal ini terjadi mulai dari tingkat individu hingga para pemimpin organisasi.

Anak yang terlalu dimanjakan menjadi beban bagi negara. Bagi orang tua, meletakkan anak di posisi pemerintahan dianggap sebagai keberhasilan dalam mendidik anak.

Masalahnya terjadi ketika anak-anak tersebut tidak dipersiapkan dengan baik di lingkungan yang tepat, sehingga mereka menjadi beban bagi negara sejak awal.

Tindakan kriminal ini terjadi secara merata di berbagai lembaga politik, institusi pemerintahan, organisasi agama, serta kelompok masyarakat di Indonesia.

Peristiwa kecil ini dibiarkan berkembang menjadi kanker yang sulit diatasi.

Jika posisi pemerintahan diperoleh oleh anggota terpilih, yang diuntungkan tidak hanya anak tersebut, tetapi juga masyarakat luas. Kehidupan mereka diperjuangkan.

Sementara itu, ketika jabatan publik hanya menjadi hadiah bagi 'si ayah', 'si ibu', atau 'mertua' organisasi, jabatan apa pun yang dipimpinnya tidak lebih dari sekumpulan bonsai.

Kekuatan mereka tidak ada. Karena mereka tidak pernah memiliki akar di mana pun. Dengan kader yang seperti bonsai yang manja yang merusak berbagai organisasi di Indonesia, kemampuan hidup orang Indonesia tidak menemukan jalan keluarnya.

Dengan anggota terpilih, organisasi dapat berjalan dengan benar. Dengan anggota yang tidak disiplin, seluruh pengurus dan anggota diwajibkan menjadi pelayan.

Revolusi anak manja 

Dengan kebiasaan saling menghormati antara anggota dan pimpinan, organisasi-organisasi di Indonesia hanyalah seperti kucing kertas.

Tidak ada isinya. Mungkin saja terbentuk intan akibat fenomena kemanjaan ini.

Para pemimpin organisasi merasa puas dengan mengabaikan logika melalui retorika yang berlebihan, serta mengabaikan kebutuhan untuk mampu membaca kenyataan.

Pengaruh ideologi yang sangat kuat telah memperburuk rasa benci yang tidak berdasar. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan justru menjadi sumber perselisihan.

Akal dan hati tidak lagi menjadi pedoman, melainkan tenggelam dalam berbagai bentuk kebodohan.

Posisi-posisi pemerintahan yang diisi oleh kelompok anak buah membuat pengelolaan urusan negara hanya menjadi masalah kecil. Urusan kantor menjadi seperti urusan keluarga.

Catatan setelah generasi 1998 ini dibuat untuk merenungkan jalan yang salah Indonesia. Ketika revolusi menjadi istilah anak manja, memang sangat merepotkan.

Sebaiknya, jika kita mendapatkan seorang pemimpin yang telah melalui proses pengasuhan dan penguatan serta mengalami berbagai kesulitan selama masa pembinaan, mereka akan menjadi tulang punggung bagi rakyatnya.

Sementara pejabat yang terpilih hanya karena warisan dari orang tua/mertua/sepupu/kakak ipar ini jelas-jelas menimbulkan kebingungan.

Baik secara langsung maupun tidak langsung, jika republik dijalankan oleh dinasti yang penuh kecenderungan, maka yang muncul hanya umpatan dan caci maki dari kalangan rakyat.

Lebih menyedihkan lagi, pemimpin yang terbiasa dengan pikiran sempit dan imajinasi terbatas hanya mampu melihat dunia sekecil ruang makan rumah mereka, bagaimana mungkin mereka bisa membicarakan rakyat (the people), sebuah konsep yang bersifat abstrak.

Kapan saja badai keegoisan ini akan berakhir. Semoga tidak terjadi bencana. (*)

Ikuti terus berita dan tulisan opini Erfa News di Google News

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default